6.06.2013

Tiket Promo

Beberapa bulan yang lalu saya pernah posting tentang orang-orang anonim yang mewarnai perjalanan. Hari ini saya menemui lagi seorang, tapi kini saya tanya siapa namanya.

Saya ingat, di sekitar pertengahan bulan Mei kemarin sebuah maskapai penerbangan yang rajin kirim email ke saya mengadakan sebuah promo. Kala itu promonya sangat menggiurkan bagi saya, Jakarta-Singapore seharga Rp 99.000,-. Saya hampir saja membeli kalau saja tidak ingat bahwa tidak punya teman perjalanan. Teman saya masih ragu untuk membelinya, tapi saya bilang, "udahlah, nggak rugi-rugi juga kalau nggak jadi berangkat." Meskipun saya akhirnya memutuskan untuk batal membeli, saya tetap saja menyesal. Kakak angkatan saya membeli salah satu tiket promo serupa, saya makin menyesal. 

Hari ini saya sudah tidak menyesal lagi. 

Pagi ini saya dan teman-teman hunting foto untuk pameran PPC. Kemudian saya melihat seorang bapak tua duduk sendirian bersama tas-tas lusuh besar. Saya seketika mendapat ide. Saya ingin sekali memfoto bapak itu, tapi saya pikir tidak sopan sekali foto sembarangan. Mencoba jujur pada diri sendiri, saya kemudian meminta ijin pada si bapak. Kalimat perijinan darinya kemudian disusul cerita panjang yang tak pernah saya kira sebelumnya.

Kematian adiknya membawanya pergi dari Kutoarjo ke Yogyakarta. Kedua anaknya yang tinggal di luar Jawa tak ada yang sanggup pulang menemaninya. Sebuah sawah ia gadaikan demi menemui adiknya untuk terakhir kalinya. Sudah jauh datang masa tidak membawa apa-apa katanya.Setelah delapan hari tinggal di Yogyakarta, ia merasa harus pulang ke rumah, ke Kutoarjo. "Kasihan yang dititipi rumah," katanya. 

Berangkat dari Bantul menuju stasiun ia membawa uang yang pas untuk membayar ongkos bis kota dan tiket kereta seharga yang ia beli saat berangkat. Tak dinyana, uang yang ia siapkan pas tanpa kelebihan sedikitpun itu tak dapat ditukar dengan selembar tiket pulang. Kurang Rp 10.000,-. "Saya bingung, apa harus pulang lagi ke Bantul minta sisanya untuk ongkos pulang, atau jalan kaki saja sampai Kutoarjo, tapi ya nggak kuat sembilan puluh kilo jalan ke sana," ucapnya pasrah sambil menepuk-nepuk tas berisi baju bekas yang ia bawa. 

Sepuluh ribu rupiah. Untuk membeli tiket seharga tiga puluh ribu rupiah, ia harus berpikir panjang. Karena selembar tiket itu seharga tiga puluh ribu rupiah ia berjalan jauh dari stasiun, kebingungan, tertidur di sudut perempatan.Karena sepuluh ribu rupiah, ia bisa saja berjalan kaki berpuluh kilometer. Sepuluh ribu rupiah, senilai yang saya habiskan untuk membeli makan siang kemarin. Sepuluh ribu rupiah, se-per-sepuluh dari nilai yang saya bilang, "nggak ada ruginya kalau nggak jadi berangkat." Se-per-sepuluhnya, pak Sumarno hanya butuh tiket Jogjakarta-Kutoarjo, tidak butuh Jakarta-Singapore. 

3 comments:

Search This Blog