5.26.2017

Bagaimana Bisa

Pasca pendadaran, saya semakin ragu tentang apa yang sebenarnya saya inginkan dalam hidup. Hal ini tidak terhindarkan meskipun saya sudah memikirkan langkah-langkah apa saja setelah lulus sejak jauh-jauh hari. Kadang-kadang apa yang diimpi-impikan tidak bisa serta merta datang begitu saja. Maka, saya perlu merancang banyak jalan yang mungkin agak berputar-putar untuk mencapai impian itu. Yang sering saya bingungkan, saya harus mulai dari mana.

Pada suatu hari, ada jalan cepat menuju impian saya itu. Jalan yang tidak pasti ada setahun sekali. Sebuah keajaiban yang tepat bersamaan momen selesainya skripsi ini. Ketika mengetahui itu rasa-rasanya saya bisa tiba-tiba membeli unicorn dan memacunya di atas pelangi. Tidak ada yang tidak mungkin rasanya.

Singkat cerita, saya berencana untuk menempuh jalan itu. Yang diperlukan adalah perlengkapan yang tepat dan sempurna agar tidak gagal melewatinya, apalagi terperosok ke dalam jurang. Karena ini impian yang saya tunggu-tunggu, tentu saja saya melakukan persiapan maksimal. Segalanya diperhitungkan secara presisi dengan seksama dan teliti. Di tahap akhir, saya meminta tolong orang lain, yang sedang saya sayangi dengan sepenuh hati, untuk memeriksa apakah persiapan saya ini sudah siap menghadapi medan terjal jalanan impian saya itu?

Awalnya ia memberi perbaikan pada ini dan itu. Saya menimbang-nimbang dan tidak menyetujui beberapa. Bagi saya, apa yang ia perbaiki membuatnya jadi tidak siap mengarungi terjalnya perjalanan. Namun, itu adalah hal biasa, saya hanya butuh orang lain untuk melihatnya. Jika sudah terlihat aman dan meyakinkan tentu saja saya akan segera meluncurkannya dengan tangan sendiri mengawali perjalanan menuju impian.

Sayang seribu sayang, jutaan kasih sayang yang telah saya curahkan pada orang itu tak juga mampu untuk membuat saya yakin akan persiapan ini. Alih-alih membantu dan memperbaiki, ia malah merusaknya. Ia merusaknya dengan alasan yang sangat egois. Ia sudah tak punya waktu (padahal saya punya) dan dengan gegabah meluncurkan peralatan tempur saya itu ke jalanan terjal menuju mimpi saya.

Seketika saya terdiam. Ingin menangis. Apa salah saya? Mengapa kamu memperlakukan saya sedemikian rupa? Memperlakukan saya seolah tidak pantas mendapat bantuanmu. Peralatan tempur itu saya yakin tidaklah rusak seperti apa yang saya pikirkan. Saya masih cukup yakin bahwa ia akan sampai pada tempatnya menjemput mimpi itu. Yang menjadi permasalahan dan kemarahan serta tentu saja kesedihan mendalam bagi saya adalah bagaimana ia tidak menghargai mimpi indah saya. Kepedihan itu semakin mendalam karena saya melihat wujud ketidakpeduliannya pada saya setelah ribuan tuntutan untuk peduli padanya dan berjuta perhatian yang tidak pernah alpha saya berikan tanpa diminta.

Saya mencoba sebisa mungkin untuk tidak menjadikan relasi ini transaksional. Perhatian saya didapatkan olehnya secara cuma-cuma. Apa yang saya lakukan untuknya tidak pernah didasari keinginan untuk dibalas. Ya tapi saya ini kan hanya manusia biasa. Layaknya manusia biasa, saya hanya ingin dihargai dan dipedulikan. Tentu saja saya ingin diperlakukan dengan baik dan tidak ditindas lebih-lebih menyangkut masa depan. Bagi saya, masa depan saya berada pada genggaman diri sendiri, tidak ada yang bisa mencampurinya. Pada titik ini, dia mencoba mengoyaknya, tanpa ijin hanya karena amarah yang tak tahu dari mana datangnya. Betapa egois.

Bagaimana bisa kamu tega melakukan ini kepada saya? Bahkan tanpa menyadarinya.

Tentu saja, saya akan bicara padanya secepatnya, ketika kami sempat bertatap muka.

3.25.2017

Bervakansi ke Dunia Nyata

Saya ini orangnya kadang sering nggak tau kalo sedang sedih. Kadang-kadang nggak paham kalo saya perlu diam sebentar dan meresapi apa yang terjadi. Di kesempatan lain kadang saya memilih untuk menolak bersedih dan pura-pura senang supaya lupa kalau ada sesuatu yang menyedihkan.

Dua bulan lalu, saya sedang duduk di bandara, transit di Malaysia untuk melanjutkan penerbangan ke Vietnam. Perjalanan itu saya gunakan untuk pergi dari kesedihan dan menganggap semua akan baik baik saja pada waktunya tanpa harus berkawan dengan air mata. Hingga akhirnya, di Kuala Lumpur saya menangis tersedu-sedu sendirian. Pasalnya, saya baru saja membuka Instagram dan melihat sebuah unggahan yang sama sekali tidak ingin saya tahu. Unggahan itu seolah mengamini pikiran-pikiran buruk yang saya pikirkan beberapa waktu sebelumnya. Saya kira saya akan baik-baik saja, ternyata tanpa sadar saya sudah menangis tersedu-sedu hingga sesak nafas. Handphone saya berdering beberapa kali, keluarga saya mengabarkan kalau sebentar lagi kami akan berangkat ke Ho Chi Minh. Saya masih gelagapan berlari ke toilet, mencuci muka supaya tak menimbulkan banyak pertanyaan.

Sejak saat itu saya pikir ada baiknya berhenti memakai media sosial sehingga bisa menghindari informasi-informasi yang sebaiknya tidak saya ketahui. Bukannya menghindari kesedihan, tapi saya pikir memang lebih baik saya merangkul kesedihan tanpa perlu membumbu-bumbuinya dengan informasi yang menambah kepedihan. Jika sedih, memang ada baiknya buka instagram lalu nontonin video dari ibunya Kirana sambil tertawa sendiri. Namun, lihat story instagram dan nonton mantan lagi asik-asikan sama gebetan barunya setelah itu juga pedihnya tak terperi. Maka dari itu, setelah saya pikir-pikir tak perlulah saya bertahan di kehidupan fana media sosial yang sekarang lebih banyak mengumbar kehidupan pribadi nir faedah alih-alih berbagi visual nan aesthetique.

Alhasil saya memutuskan untuk menghapus media sosial nir faedah seperti Instagram dan Path di smartphone saya. Media sosial yang akhir-akhirnya hanya menambah bahan untuk bergunjing, iri, dengki, dan cemburu. Hitung-hitung mengurangi racun-racun yang menghambat penulisan skripsi saya. Saya pun dengan seksama tanpa media sosial tak berguna itu menulis skripsi saya dengan damai. Membaca beberapa jurnal tentang media sosial dan relasi antar penggunanya sebagai bahan menulis skripsi pula. 

Beberapa minggu berlalu, skripsi saya sudah cukup banyak terkerjakan dan ajaibnya saya merasa lebih merdeka tanpa terjajah informasi-informasi tak berfaedah dari media sosial. Saya berada pada situasi di mana tak perlulah teman-teman media sosial saya tahu, pun saya juga tak lagi peduli si A sedang di mana bersama siapa atau si B sedang apa mau ke mana. Rupa-rupanya media sosial itu toxic juga ya. Menurut Thompson (2008), media sosial menciptakan sebuah konsep bernama digital intimacy, situasi di mana media sosial mengkondisikan penggunanya untuk saling tahu tentang keadaan pengguna lainnya. Hal inilah yang kemudian menciptakan keintiman semu, keintiman yang terjadi tanpa komunikasi secara langsung, chat pribadi, apalagi tatap muka. Hanya dengan buka Instagram, saya sudah tahu Pevita Pearce kemarin siang lari terengah-engah dari Amplaz menuju Gardena. Sebagai non-fans Pevita, informasi itu tidak penting sama sekali, tapi mau tak mau saya jadi tahu karena tidak sengaja lihat story-nya di explore Instagram. 

Saat ini sudah bukan eranya lagi berbasa-basi, "Apa kabar?" karena kini semua orang tahu kamu kemarin sarapan apa sama siapa, pakai sambel berapa sendok. Sekarang saatnya menaikan level keintiman pertanyaan basa-basi jadi, "tukang bubur ayam tempatmu sarapan kemarin itu calon mertuaku lho." Yah, tak perlulah juga dijawab "kok tau aku makan bubur ayam di sana?" karena ya semua orang itu dasarnya adalah penguntit di era media sosial seperti sekarang ini. Pun percakapan semacam itu sudah jamak terjadi saat ini. Kemarin saya bertemu kenalan yang sudah setahun lebih tak bertemu dan hanya terhubung via Instagram. Kalau sudah lebih dari sebulan saya tidak update Instagram, ya bahan basa-basi apa sih yang dia punya. Akhirnya pun dia berkata, "kalau kamu sibuk apa sekarang? aku nggak pernah tahu kamu ngapain akhir-akhir ini," setelah sebelumnya ia memperdalam informasi dari story teman-teman saya yang lain.  

Setelah beberapa minggu sama sekali tidak menggunakannya secara intens di smartphone, saya merasakan ketenangan yang tak dapat didefinisikan. Bepergian adalah hal yang benar-benar saya nikmati untuk diri saya sendiri. Saya tak peduli lagi spot apa yang sebaiknya saya foto, saya tak peduli asalkan saya bahagia ada di tempat itu saat itu juga. Saya mengambil foto pun murni untuk saya kenang sendiri, bukan untuk berkata pada dunia bahwa saya sedang atau pernah ada di sana. Kembali pada diri sendiri adalah hal yang paling berarti selama program detoksifikasi media sosial itu. Ternyata, membatasi diri untuk tidak melihat banyak-banyak privasi orang sama pentingnya dengan menjaga privasi diri sendiri. 

Menggunakan media sosial sama saja seperti sudah cukup makan, tapi dipaksa-paksa makan dessert berlebihan. Ya, soalnya there's always a room for dessert, tapi itu ga sehat kalo kebanyakan!! Ya seperti itulah kiranya main media sosial di jaman sekarang. Media sosial di jaman semua platform mau meniru Snapchat dan bikin segala bentuk story-story-an. Banyak manusia mulai membagi kehidupan yang sebenarnya tak perlulah dibagi. Lebih banyak pula manusia yang mengonsumsi hidup orang lain walaupun sebenarnya tidak memerlukan dan akhirnya cuma jadi racun untuk hidupnya. 

Melalui tulisan ini saya tidak sedang mencoba berkata bahwa media sosial itu racun dunia yang perlu dijauhi juga sih. Main media sosial ada banyak pula kok faedahnya, termasuk mendukung usaha personal branding di jaman masuk job fair rasanya sudah seperti belanja di pasar beringharjo ketika bulan puasa ini. Seperti yang sudah-sudah, apa yang berlebih-lebihan itu tidak baik. Seperti makan sate kambing, kalau kebanyakan akhirnya darah tinggi juga. Kalau sudah mulai ada gejala stroke karena kebanyakan lihat informasi nir faedah di media sosial, ada baiknya saya sarankan untuk berhenti sejenak menikmati kicau burung di pagi hari, memberi makan ayam peliharaan kalau punya, dan menghapus aplikasinya sebentar saja dari ponsel Anda. 

2.02.2017

Early 20

Sambil membersihkan sisa-sisa bumbu ayam bakar seorang teman tiba-tiba berkata, "kok bisa ya, tiba-tiba ada banyak surprise dalam kehidupan." Sembari terus mencoba menghabiskan apa yang ada di atas piring, ia kemudian merunut kejadian-kejadian yang tidak pernah kami duga sebelumnya. "Kok bisa ya?" lagi-lagi dia berkata begitu. Setengah jam kemudian teman saya itu menangis tersedu-sedu. Menangis karena dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Saya hanya diam sambil nyengir-nyengir tak tahu mau berkata apa lagi. Hanya bisa berujar, "Susah ya, aku juga ga tau kamu harus apa."

Beberapa hari yang lalu, saya berjumpa dengan teman lama yang berbulan-bulan tidak saya temui. Namun, obrolan kami di chat selalu panjang, memeras pikiran. Teman kami tak pernah berhenti mencari sensasi. Kami berdua selalu mengakhiri chat dengan, "Ya udah lah, pusing juga, kita kan juga punya hidup." Hari berikutnya, topik yang sama bergulir lagi, alasannya, "Ya tapi aku ga tega kalau teman kita berbuat begitu. Kalau bukan kita, siapa lagi yang berani mengingatkan?" Hingga akhirnya saya mengajaknya untuk bertemu. Ada kabar baru, kita harus berjumpa, begitu kiranya saya mengajaknya. Malam itu saya bercerita sambil berapi-api karena sudah lelah tapi tidak bisa untuk tidak peduli. Jadi ya lebih baik saya bagi saja cerita itu supaya tidak ada beban di hati. Akhirnya perbincangan malam itu ditutup dengan, "Sudahlah mari kita lanjutkan hidup masing-masing." Sambil memijat kening dan prihatin atas rumitnya jalinan pertemanan di sebuah lingkaran yang tadinya seru sekali. 

Lalu tiba-tiba ada teman yang tidak membalas chat. Dibaca saja. Ternyata putus cinta. Oalah. Teman yang lain tiba-tiba mengajak saya berjumpa di sebuah coffee shop. Lagi-lagi, drama kehidupan lain yang saya dengar. Sepulang dari pertemuan itu saya mengirim pesan kepadanya. "Sudah lah buat apa dipikirkan sering-sering, lebih baik menyelamatkan saldo rekening kita yang sudah tak lagi sedap dipandang ini," tulis saya sambil terkulai lemas di atas tempat tidur, pusing memikirkan analisis data skripsi yang saya tidak tahu caranya supaya cepat selesai.

Susah ya jadi calon orang dewasa.   




8.26.2016

Hello Life

Today, my co-worker said, "Are you overwhelmed with this new client?"

"Kinda," I replied while i was drinking a glass of water and staring to a blank space in front of me. I was trying to be sane after driving a long way to do things. I was trying to catch up with all my duties appropriately. "Why should I do these things by myself?" is the only question that i'm trying to answer. 

Lots of things are queuing in my head while i'm still confused about how many lockets i should open. Things are getting more and more complicated day by day, but I just ignored it. My brain works like a Zombie. All the machines are on in my head, but they produce nothing. It feels like i'm running, but actually not. 

This evening, I drove home. I hit the wall. I realized it after seconds. Don't ask me why i hit the wall because i'm as clueless as you are. I'm as clueless about it as i'm clueless about life. At least now I know that there are many things queuing in front of me and they've had a quarrel as well. 

Thank you wall for taking me back to reality. 


7.12.2016

Lebaran Digital

Idul Fitri kali ini rasanya berbeda karena banyak hal.

Yang pertama karena tahun lalu mata saya sempat memerah selepas sholat Ied. Mata saya memerah karena menemukan bahwa tidak ada ritual-ritual yang biasa saya lakukan selama 20 tahun terakhir hidup saya di hari Idul Fitri, makan opor dan ketupat, bertemu seluruh keluarga saya, dan sungkeman dengan keluarga. Tahun lalu, keluarga saya baru. Tidak ada opor. Saya tidak kenal dengan orang-orang yang datang ke rumah yang baru saya tinggali selama dua minggu. Saya di sebuah pulau kecil dalam rangka 'mengabdi' karena kebetulan saya mahasiswa sebuah kampus 'kerakyatan'. 

Tahun ini, menjelang lebaran, mata saya sering sekali sedikit berair. Bukan sakit mata, tapi ada orang lain yang tinggal di rumah saya yang baru itu dan saya iri padanya. Ternyata saya rindu pada mereka yang ada di tempat yang jauh itu. Hehe. Sekarang yang saya sebut rumah dan keluarga jadi dua ternyata. 

Pertanyaan yang muncul juga makin kompleks. Bukan hanya "kelas berapa?" tapi menjadi "sudah lulus belum?", "kapan wisuda?", "skripsi sampe mana?", "sekarang sibuk apa?", "pacarnya yang mana?". Ya gampang sih jawabnya, tapi kalau sampe ditanya lima kali dalam sepuluh menit kan capek :) Untungnya masih sering dikira masih SMP. Terima kasih tubuh yang tak meninggi. 

Bayi-bayi yang bertemunya cuma setahun sekali atau kadang dua kali itu juga tiba-tiba sudah lulus SD. Tiba-tiba mereka follow Snapchat saya, atau Instagram. Untung bukan Path atau Twitter. God save my personal lifeee. 

Satu lagi yang baru. Cara mengungkapkan ucapan lebaran. Dulu waktu SD-SMP adalah saat yang penting untuk sedia pulsa di malam takbir guna membalas SMS yang banyak serta menyusun kata-kata lucu atau.....copas ucapan lucu. Beberapa tahun terakhir, keberadaan Facebook dan social media lain memberi tambahan bagi ritual ucapan lebaran, yaitu pasang status atau mention teman rombongan. 

Di tahun ini, rasanya semua itu sudah usang. Yang paling mencolok di tahun ini adalah, ucapan lebaran yang lucu-lucu itu sudah berubah menjadi ucapan-ucapan dalam bentuk visual, bukan lagi teks. Path dengan fitur #pathdaily seolah menguatkan dan mendukung perubahan ini. Kini, siapa saja bisa membuat ucapannya berbentuk visual hanya dengan mengetik #pathdaily. Mengirim ucapan menjadi semudah "share to another chat" kalau mau lebih mudah lagi, bagikan saja di grup niscaya sudah meminta maaf pada banyak orang sekali waktu. 

Saya tahu persaingan di dunia ini semakin berat dari ucapan-ucapan lebaran visual itu. Semua orang bisa melakukan apa saja dengan mudah dan cepat, yang membedakan adalah niat dan kesungguhan. 

Selamat menjalani kehidupan biasa setelah Idul Fitri semoga usaha memaafkannya benar-benar berhasil. 

Search This Blog