7.02.2017

Grup WA Keluarga

Lebaran kali ini dihebohkan dengan kehadiran seorang eyang yang tiba-tiba masuk di grup whatsapp keluarga. Eyang ini adalah kakak dari eyang saya, umurnya sudah lebih dari 75 tahun dan tepat sebelum Idul Fitri resmi menjadi anggota grup whatsapp keluarga yang berisi anggota keluarga dalam satu trah. Peristiwa ini menjadi perbincangan hangat di acara kumpul trah kemarin dan bahkan memancing beberapa orang tua mencetuskan lelucon-lelucon ala mereka terkait kegagapan teknologi anggota baru grup. 

 "Aku semalaman belajar gimana caranya membalas pesan dan buka chat," begitu ujar eyang yang baru saja jadi anggota grup. Sebuah usaha yang akhirnya tetap saja gagal dan berakhir menjadi bahan tertawaan anggota keluarga lainnya. 

Perihal generasi tua yang tiba-tiba hadir di platform-platform komunikasi kekinian bukanlah hal yang baru bagi saya terlebih dua tahun terakhir. Pertama-tama, eyang saya yang baru saja dibelikan handphone android oleh bude tiba-tiba rajin menelpon dengan pesan yang hampir sama, "nin, sini o, ini kok pulsaku habis ya padahal udah langganan internet." Telepon macam ini tidak hanya sekali atau dua kali, tapi sering dengan keluhan bervariasi, mulai dari caranya aktivasi paket data, kuota internet yang langsung habis pasca dipakai menonton Kick Andy di Youtube, sampai cara membuka kiriman foto di WhatsApp. Semua adalah hal remeh temeh yang bisa beres dalam hitungan detik di tangan generasi Y sampai Z. 

Jarak memang mengubah segalanya, termasuk hati yang bisa tiba-tiba lupa pernah beranak kupu-kupu karenanya. Kemajuan teknologi dan jarak dengan orang tua kini mau tidak mau harus digabungkan untuk mendapat solusi paling tepat. Tak mungkin lagi lah bergantung dengan sambungan telpon saja karena pertama boros pulsa, kedua jaman sekarang yang perlu dibagi ada banyak sekali. Mulai foto hari ini masak apa sampai video cucu sudah bisa nyanyi "twinkle-twinkle little stars". Kalau begini, generasi yang sudah ada lebih dulu tentu saja harus mengalah. Mengalah meluangkan waktu untuk belajar buka chat di WhatsApp dan membiasakan diri untuk tidak menempelkan handphone di telinga padahal video call. Generasi yang lebih muda juga harus bersabar menjadi teman belajar berteknologi mereka. Harus bersabar kalau tiba-tiba di-video call padahal sedang meeting dengan klien penting, atau kalau saya sih pernah tiba-tiba di-video call ketika lagi nangis jelek banget gara-gara berantem sama pacar waktu masih punya. Ya tentu saja tidak diangkat dong, daripada kemudian kabar saya nangis terus tersebar di WhatsApp. 

Kehadiran mereka tentu saja tidak berhenti begitu saja di WhatsApp dan Line. Bagi generasi eyang -eyang yang masih agak lebih muda, Facebook adalah sasaran setelah belajar berkirim foto dengan cucu di WhatsApp. Perilaku bermedia sosial ini adalah yang terakhir saya temukan pada eyang sendiri. Berfoto kini tak cukup sekali, harus diulang supaya layak unggah. Setelah berfoto, saya sudah langsung bisa lihat hasilnya di beranda Facebook saya. Cepat, kilat, seperti tukang foto keliling jaman saya masih TK. Perubahan-perubahan perilaku karena perkembangan teknologi macam ini sejatinya bukan hal baru, bagi generasi yang lebih muda. Namun, jadi terlihat mencolok ketika yang melakukan adalah eyang-eyang yang beberapa tahun lalu bertanya, "Facebook ki opo to?" sambil belajar mencari tombol send untuk mengirim SMS. 

Kehadiran lansia belajar teknologi ini adalah sebuah fenomena yang masih jadi pertanyaan bagi saya. Apakah perlu ditanggapi dengan serius atau tidak, ya? Apakah ini hanyalah fase sebelum akhirnya mereka semua cakap teknologi dan tidak perlu telpon cucunya lagi kalau mau buka kiriman foto di WA. Ataukah sebenarnya perlu ada inovasi khusus untuk memudahkan mereka mencari tombol send dan download? Mengingat mungkin desain interface yang dikembangkan sekarang bisa jadi tidak ramah bagi lansia. Seberapa penting dan perlu sih dipikirkan kemudahan akses teknolgi ramah lansia? Mengingat ya nantinya generasi ini tidak bertahan lama dan akan digantikan oleh generasi-generasi cakap teknologi selanjutnya.. Tapi, bukankah lebih bahagia jika para lansia ini bisa ngobrol dengan cucu-cucunya yang baru masuk SD tanpa harus bingung tekan tombol yang mana? 

1 comment:

  1. Ngakak! Aku ga punya grup whatsapp keluarga karena gak punya keluarga yang perlu digrup in wkwk

    ReplyDelete

Search This Blog