"Ya sudah, nggak apa-apa," adalah kalimat yang selalu saya katakan pada diri sendiri sepanjang tahun 2018. Banyak yang luput dari target, salah rencana, bahkan gagal terlaksana. Setelah dua tahun alfa menulis review tahunan, ada baiknya saya kembali, menemukan diri saya sekali lagi.
Tidak ada harapan apa-apa saat memulai tahun 2018. Ya pokoknya begini, lihat saja apa yang akan terjadi. Saya tidak berharap apa-apa pada pekerjaan pun pada diri sendiri. Saya hanya ingin melihat, sebenarnya apa sih yang sedang saya hadapi sekarang? Saya ingin membuktikan, bahwa ini jalan yang ternyata tidak saya inginkan. Jika sebaliknya, berarti itu adalah fakta baru.
Tidak ada yang terjadi di tahun 2018. Bekerja sambil bertanya setiap pagi, "kapan ini berakhir?" Hingga akhirnya ada jalan untuk mengakhiri semua. Pun akhirnya gagal, karena ada jalan lain yang nampak lebih indah. Saya sudah bersiap untuk kejutan apapun di tahun ini. Saya tidak kaget jika tahun ini saya kecewa luar biasa pun tidak terlalu bersemangat jika ada kabar baik menghampiri. Semuanya biasa-biasa saja karena tahun itu saya sungguh tidak tahu mau menuju apa.
Sudah cukup seperti orang yang tidak punya tujuan hidup bukan?
Ya setidaknya ada momen-momen baik di tahun 2018. Sayang, semuanya bukan milik saya. Di tahun itu, saya adalah penonton setia yang berbahagia. Bahagia melihat teman-teman kantor akhirnya pergi satu per satu ke tempat yang lebih menjanjikan. Bahagia melihat Bisma berhasil membuka kembali roastery-nya dan melihat ia hidup kembali dengan semangatnya. Bahagia melihat teman-teman yang menang pitching. Bahagia melihat Tita akhirnya menikah.
Saya tidak melangkah lebih jauh di tahun 2018. Saya terdiam, terpaku melihat hiruk pikuk manusia lainnya. Saya memandang dari kejauhan mereka yang memanggil-manggil, menawarkan rute baru. Saya hanya terdiam, tidak ingin melangkah. Bisa jadi, ada binatang buas sepanjang perjalanan. Bisa jadi, saya salah perjalanan. Sesungguhnya saya tidak tahu harus mengarah ke mana. Semua ada di kepala, tapi kenyataan terlalu membingungkan. Di tahun ini, ternyata saya dipeluk ketakutan, digandeng keraguan hingga saya memilih diam saja.
Di tahun ini, saya belajar satu hal. Ada banyak orang pembohong. Saya belajar, marah dan menentukan sikap adalah salah satu cara jadi dewasa. Tidak ada yang bisa dipercaya kecuali diri sendiri karena semua orang ingin keuntungannya sendiri. Di 2018, saya marah luar biasa pada diri sendiri, keadaan, pilihan-pilihan yang saya ambil, dan nasib buruk. Memang itu tidak mengubah apapun, tapi setidaknya saya tahu saya marah. Saya boleh marah untuk melindungi diri sendiri.
Dari 2018 saya punya satu bekal berharga untuk memulai 2019. Ikhlas. Semua yang saya pilih di tahun lalu, baik dan buruknya harus diterima dengan ikhlas. Bara-bara kemarahan saya dari tahun itu pun masih menyala, mengingatkan saya untuk melangkah lebih sigap mengambil apa yang terlewatkan.
1.15.2019
7.27.2017
Menanam Benih, Memanen Duka Lara, dan Lupa
Banyak yang pengalaman berkebunnya berhenti pada pelajaran perkembangbiakan tanaman saat SD, yaitu saat menumbuhkan kecambah dari biji kedelai di atas kapas basah. Kalau boleh sombong, pengalaman berkebun saya melesat begitu hebat setelah proyek kapas basah itu. Sejak proyek itu, saya jadi suka sekali bercocok tanam. Apalagi ketika percobaan tanamannya ditaruh di bawah kasur dan tempat bercahaya. Wow keren sekali hanya karena secercah cahaya dia punya kehidupan lebih baik dibanding temannya yang sial kena plotting di bawah kasur.
Setelah itu, saya menanam jagung di halaman rumah. Berhasil dengan baik sampai tanaman jagungnya meninggi dan berhasil dipanen meskipun seingat saya jagungnya nggak enak. Di samping tanaman jagung, ada kacang yang saya tanam dengan seksama, berhasil dipanen pula. Sebuah prestasi yang layak diabadikan juga ya ternyata. Hebat! Yang saya ingat sih kacang dan jagung, sisanya saya lupa tanaman apa saja yang berhasil tumbuh dan dipanen, tapi sepertinya hasilnya tidak signifikan sampai saya lupa. Keberhasilan jagung dan kacang itu memompa semangat saya untuk terus merawat biji-bijian agar menjadi tanaman. Kadang-kadang berhasil, di lain waktu saya lupa juga menanam di mana karena terlalu sembarangan. Kalau sedang sial ya terinjak orang yang menyiram tanaman, atau tercabut karena dikira rumput.
Pada suatu masa, saya pun pindah rumah. Tentu saja perlu penjajakan terhadap lahan pertanian saya. Sejak jauh-jauh hari saya sudah mengklaim halaman belakang rumah baru adalah lahan perkebunan saya. Bahkan saya punya rencana untuk menanam padi di situ. Hebat kan sepak terjang karir pertanian dan perkebunan saya pada masa itu. Sejauh yang saya ingat, pada akhirnya saya memutuskan untuk meneruskan karir pertanian saya dengan menanam jagung dan kawan-kawannya di belakang rumah. Kali ini dengan konsep ciamik. Setiap tanaman saya pisahkan di blok-blok sendiri, diberi label nama-nama tanamannya. Di sini jagung, di sana kacang, dan seterusnya. Sebuah impian jika suatu hari dapat masak sayur asem dari kebun sendiri. Betapa hebatnya mengabaikan tukang sayur yang lewat karena saya sudah bisa petik sendiri, begitu angan-angan saya. Impian masa kecil saya memang begitu agraris dan tidak mengada-ada, benar adanya.
Hingga datanglah masa liburan sekolah. Jika libur sekolah, saya akan pergi ke rumah kakek dan nenek di...ibukota. Benar teman-teman, saya meninggalkan kebun saya untuk berlibur ke ibukota. Kebalikan dari kisah di buku pelajaran Bahasa Indonesia, Ani dan Budi berlibur ke rumah nenek yang punya kebun. Saya sebaliknya.
Sepulang dari ibukota, saya berangan-angan kebun saya sudah tumbuh subur. Setidaknya hijaunya daun-daun tunas sudah bisa terlihat dari biji-biji yang ditanam itu. Sayang seribu sayang hanya kekecewaan yang muncul. Yang saya temukan hanyalah galian tanah di belakang rumah, kebun saya diubah jadi kolam ikan! Sebuah kejahatan! Seketika itu juga saya menangis tesedu-sedu, terluka kehilangan kebun impian. Sore itu adalah kehancuran bagi saya. Saya masih ingat tangis saya sore itu, kehilangan kebun jagung yang dinanti-nanti dalam angan, bahkan sejak berangkat pulang dari Jakarta.
Tangis yang begitu dramatis itu membuat Papa saya memberi solusi yang mungkin cukup jitu, tapi tetap saja tak mengobati luka ini. Saya diajak ke ladang ketela di seberang jalan depan rumah (yang kalau ditengok saat ini sudah berubah jadi rumah bertingkat), kemudian saya diajak mengambil beberapa batang pohon ketela (duh, saya nggak yakin ini legal atau tidak, tapi usaha seorang ayah menghibur anaknya bolehlah dijadikan alasan untuk melegalkannya). Batang-batang pohon ketela itu dipotong-potong dan ditanam rapi, di lahan yang tersisa tidak terkena galian kolam ikan. Ladang jagung saya berubah jadi ladang ketela.
Hati yang terluka, meski sudah sembuh pasti ada bekasnya. Sejak saat itu saya jadi malas mengurus kebun, terlanjur sakit hati kebun jagung saya dijadikan kolam ikan. Meskipun ladang ketela saya cukup luas, saya tidak terlalu mempedulikannya. Takut berharap, takut kecewa. Ya pada akhirnya beberapa batang pohon ketela itu tumbuh baik, bisa dipanen dan berhasil jadi kolak, getuk, dan oleh-oleh karena besar sekali. Hanya saja si pohon tumbuh tanpa niat baik dan ketulusan saya yang terlanjur patah hati dikecewakan kolam ikan si perusak ladang jagung.
Bertahun-tahun kemudian, ketika kuliah pagi sudah jarang, saya mulai mendapat semangat berkebun itu lagi. Untungnya, si kolam ikan akhirnya pun tiada karena tidak ada yang mengurus dan dibongkar jadi lahan luas lagi. Saya mulai menebarkan biji-biji bayam, kangkung, tomat, dan timun. Timun dan tomat gagal panen. Bayam dan kangkung berhasil panen satu kali, jadi sayur bobor serta oseng kangkung. Selanjutnya, saya alfa dan lupa menyirami. Bangun kesiangan, kuliah pagi, lupa, dan musnahlah kebun kecil saya.
Setelah kuliah selesai dan hanya skripsi yang menghantui, saya mulai berusaha lagi. Kali ini membeli bibit bunga matahari. Tingginya sekitar 30 cm, saya pindahkan dalam pot, saya sirami setiap pagi, tak lupa di-update di snapchat. Bunga matahari mengalami pertumbuhan signifikan, satu cabang batang baru di tubuhnya yang belum kuat mulai tumbuh. Sebentuk harapan mulai muncul di angan-angan, punya kebun bunga matahari, betapa Instagramable. Hingga kemudian, datanglah Lovi, kucing peliharaan adik saya, dia melompati angan-angan itu, menabrak pot bunga matahari dan mematahkan batangnya. Bersamaan dengan itu, patah pula semangat saya menghidupi tanaman itu hingga akhirnya layu terinjak kucing.
Sekarang, saya masih belum pulih dari kekecewaan tumbuhan-tumbuhan yang gagal tumbuh itu. Bibit-bibit sayuran masih menumpuk di sudut lemari, rajin saya beli tiap melihat penjual bibit dan pergi ke supermarket. Namun sayangnya, kali ini saya perlu menanam semangat hingga tumbuh optimisme yang bisa dipanen untuk memulai kebun impian lagi. Haruskah saya menanam kembali?
---
Tulisan ini adalah bagian dari progran "Tulis Saja, Kapan Lagi" bersama Anindita Lintang dan Gusti Arirang. Tulisan ini untuk tema berkebun, tema yang sudah ditentukan tiga minggu lalu, masih ada dua tema lagi yang akan saya susulkan. Selamat menanam apapun dalam hidup, jika panennya kekecawaan masih ada banyak kesempatan untuk bertanam, lahan masih luas.
7.02.2017
Grup WA Keluarga
Lebaran kali ini dihebohkan dengan kehadiran seorang eyang yang tiba-tiba masuk di grup whatsapp keluarga. Eyang ini adalah kakak dari eyang saya, umurnya sudah lebih dari 75 tahun dan tepat sebelum Idul Fitri resmi menjadi anggota grup whatsapp keluarga yang berisi anggota keluarga dalam satu trah. Peristiwa ini menjadi perbincangan hangat di acara kumpul trah kemarin dan bahkan memancing beberapa orang tua mencetuskan lelucon-lelucon ala mereka terkait kegagapan teknologi anggota baru grup.
"Aku semalaman belajar gimana caranya membalas pesan dan buka chat," begitu ujar eyang yang baru saja jadi anggota grup. Sebuah usaha yang akhirnya tetap saja gagal dan berakhir menjadi bahan tertawaan anggota keluarga lainnya.
Perihal generasi tua yang tiba-tiba hadir di platform-platform komunikasi kekinian bukanlah hal yang baru bagi saya terlebih dua tahun terakhir. Pertama-tama, eyang saya yang baru saja dibelikan handphone android oleh bude tiba-tiba rajin menelpon dengan pesan yang hampir sama, "nin, sini o, ini kok pulsaku habis ya padahal udah langganan internet." Telepon macam ini tidak hanya sekali atau dua kali, tapi sering dengan keluhan bervariasi, mulai dari caranya aktivasi paket data, kuota internet yang langsung habis pasca dipakai menonton Kick Andy di Youtube, sampai cara membuka kiriman foto di WhatsApp. Semua adalah hal remeh temeh yang bisa beres dalam hitungan detik di tangan generasi Y sampai Z.
Jarak memang mengubah segalanya, termasuk hati yang bisa tiba-tiba lupa pernah beranak kupu-kupu karenanya. Kemajuan teknologi dan jarak dengan orang tua kini mau tidak mau harus digabungkan untuk mendapat solusi paling tepat. Tak mungkin lagi lah bergantung dengan sambungan telpon saja karena pertama boros pulsa, kedua jaman sekarang yang perlu dibagi ada banyak sekali. Mulai foto hari ini masak apa sampai video cucu sudah bisa nyanyi "twinkle-twinkle little stars". Kalau begini, generasi yang sudah ada lebih dulu tentu saja harus mengalah. Mengalah meluangkan waktu untuk belajar buka chat di WhatsApp dan membiasakan diri untuk tidak menempelkan handphone di telinga padahal video call. Generasi yang lebih muda juga harus bersabar menjadi teman belajar berteknologi mereka. Harus bersabar kalau tiba-tiba di-video call padahal sedang meeting dengan klien penting, atau kalau saya sih pernah tiba-tiba di-video call ketika lagi nangis jelek banget gara-gara berantem sama pacar waktu masih punya. Ya tentu saja tidak diangkat dong, daripada kemudian kabar saya nangis terus tersebar di WhatsApp.
Kehadiran mereka tentu saja tidak berhenti begitu saja di WhatsApp dan Line. Bagi generasi eyang -eyang yang masih agak lebih muda, Facebook adalah sasaran setelah belajar berkirim foto dengan cucu di WhatsApp. Perilaku bermedia sosial ini adalah yang terakhir saya temukan pada eyang sendiri. Berfoto kini tak cukup sekali, harus diulang supaya layak unggah. Setelah berfoto, saya sudah langsung bisa lihat hasilnya di beranda Facebook saya. Cepat, kilat, seperti tukang foto keliling jaman saya masih TK. Perubahan-perubahan perilaku karena perkembangan teknologi macam ini sejatinya bukan hal baru, bagi generasi yang lebih muda. Namun, jadi terlihat mencolok ketika yang melakukan adalah eyang-eyang yang beberapa tahun lalu bertanya, "Facebook ki opo to?" sambil belajar mencari tombol send untuk mengirim SMS.
Kehadiran lansia belajar teknologi ini adalah sebuah fenomena yang masih jadi pertanyaan bagi saya. Apakah perlu ditanggapi dengan serius atau tidak, ya? Apakah ini hanyalah fase sebelum akhirnya mereka semua cakap teknologi dan tidak perlu telpon cucunya lagi kalau mau buka kiriman foto di WA. Ataukah sebenarnya perlu ada inovasi khusus untuk memudahkan mereka mencari tombol send dan download? Mengingat mungkin desain interface yang dikembangkan sekarang bisa jadi tidak ramah bagi lansia. Seberapa penting dan perlu sih dipikirkan kemudahan akses teknolgi ramah lansia? Mengingat ya nantinya generasi ini tidak bertahan lama dan akan digantikan oleh generasi-generasi cakap teknologi selanjutnya.. Tapi, bukankah lebih bahagia jika para lansia ini bisa ngobrol dengan cucu-cucunya yang baru masuk SD tanpa harus bingung tekan tombol yang mana?
3.25.2017
Bervakansi ke Dunia Nyata
Saya ini orangnya kadang sering nggak tau kalo sedang sedih. Kadang-kadang nggak paham kalo saya perlu diam sebentar dan meresapi apa yang terjadi. Di kesempatan lain kadang saya memilih untuk menolak bersedih dan pura-pura senang supaya lupa kalau ada sesuatu yang menyedihkan.
Dua bulan lalu, saya sedang duduk di bandara, transit di Malaysia untuk melanjutkan penerbangan ke Vietnam. Perjalanan itu saya gunakan untuk pergi dari kesedihan dan menganggap semua akan baik baik saja pada waktunya tanpa harus berkawan dengan air mata. Hingga akhirnya, di Kuala Lumpur saya menangis tersedu-sedu sendirian. Pasalnya, saya baru saja membuka Instagram dan melihat sebuah unggahan yang sama sekali tidak ingin saya tahu. Unggahan itu seolah mengamini pikiran-pikiran buruk yang saya pikirkan beberapa waktu sebelumnya. Saya kira saya akan baik-baik saja, ternyata tanpa sadar saya sudah menangis tersedu-sedu hingga sesak nafas. Handphone saya berdering beberapa kali, keluarga saya mengabarkan kalau sebentar lagi kami akan berangkat ke Ho Chi Minh. Saya masih gelagapan berlari ke toilet, mencuci muka supaya tak menimbulkan banyak pertanyaan.
Sejak saat itu saya pikir ada baiknya berhenti memakai media sosial sehingga bisa menghindari informasi-informasi yang sebaiknya tidak saya ketahui. Bukannya menghindari kesedihan, tapi saya pikir memang lebih baik saya merangkul kesedihan tanpa perlu membumbu-bumbuinya dengan informasi yang menambah kepedihan. Jika sedih, memang ada baiknya buka instagram lalu nontonin video dari ibunya Kirana sambil tertawa sendiri. Namun, lihat story instagram dan nonton mantan lagi asik-asikan sama gebetan barunya setelah itu juga pedihnya tak terperi. Maka dari itu, setelah saya pikir-pikir tak perlulah saya bertahan di kehidupan fana media sosial yang sekarang lebih banyak mengumbar kehidupan pribadi nir faedah alih-alih berbagi visual nan aesthetique.
Alhasil saya memutuskan untuk menghapus media sosial nir faedah seperti Instagram dan Path di smartphone saya. Media sosial yang akhir-akhirnya hanya menambah bahan untuk bergunjing, iri, dengki, dan cemburu. Hitung-hitung mengurangi racun-racun yang menghambat penulisan skripsi saya. Saya pun dengan seksama tanpa media sosial tak berguna itu menulis skripsi saya dengan damai. Membaca beberapa jurnal tentang media sosial dan relasi antar penggunanya sebagai bahan menulis skripsi pula.
Beberapa minggu berlalu, skripsi saya sudah cukup banyak terkerjakan dan ajaibnya saya merasa lebih merdeka tanpa terjajah informasi-informasi tak berfaedah dari media sosial. Saya berada pada situasi di mana tak perlulah teman-teman media sosial saya tahu, pun saya juga tak lagi peduli si A sedang di mana bersama siapa atau si B sedang apa mau ke mana. Rupa-rupanya media sosial itu toxic juga ya. Menurut Thompson (2008), media sosial menciptakan sebuah konsep bernama digital intimacy, situasi di mana media sosial mengkondisikan penggunanya untuk saling tahu tentang keadaan pengguna lainnya. Hal inilah yang kemudian menciptakan keintiman semu, keintiman yang terjadi tanpa komunikasi secara langsung, chat pribadi, apalagi tatap muka. Hanya dengan buka Instagram, saya sudah tahu Pevita Pearce kemarin siang lari terengah-engah dari Amplaz menuju Gardena. Sebagai non-fans Pevita, informasi itu tidak penting sama sekali, tapi mau tak mau saya jadi tahu karena tidak sengaja lihat story-nya di explore Instagram.
Saat ini sudah bukan eranya lagi berbasa-basi, "Apa kabar?" karena kini semua orang tahu kamu kemarin sarapan apa sama siapa, pakai sambel berapa sendok. Sekarang saatnya menaikan level keintiman pertanyaan basa-basi jadi, "tukang bubur ayam tempatmu sarapan kemarin itu calon mertuaku lho." Yah, tak perlulah juga dijawab "kok tau aku makan bubur ayam di sana?" karena ya semua orang itu dasarnya adalah penguntit di era media sosial seperti sekarang ini. Pun percakapan semacam itu sudah jamak terjadi saat ini. Kemarin saya bertemu kenalan yang sudah setahun lebih tak bertemu dan hanya terhubung via Instagram. Kalau sudah lebih dari sebulan saya tidak update Instagram, ya bahan basa-basi apa sih yang dia punya. Akhirnya pun dia berkata, "kalau kamu sibuk apa sekarang? aku nggak pernah tahu kamu ngapain akhir-akhir ini," setelah sebelumnya ia memperdalam informasi dari story teman-teman saya yang lain.
Setelah beberapa minggu sama sekali tidak menggunakannya secara intens di smartphone, saya merasakan ketenangan yang tak dapat didefinisikan. Bepergian adalah hal yang benar-benar saya nikmati untuk diri saya sendiri. Saya tak peduli lagi spot apa yang sebaiknya saya foto, saya tak peduli asalkan saya bahagia ada di tempat itu saat itu juga. Saya mengambil foto pun murni untuk saya kenang sendiri, bukan untuk berkata pada dunia bahwa saya sedang atau pernah ada di sana. Kembali pada diri sendiri adalah hal yang paling berarti selama program detoksifikasi media sosial itu. Ternyata, membatasi diri untuk tidak melihat banyak-banyak privasi orang sama pentingnya dengan menjaga privasi diri sendiri.
Menggunakan media sosial sama saja seperti sudah cukup makan, tapi dipaksa-paksa makan dessert berlebihan. Ya, soalnya there's always a room for dessert, tapi itu ga sehat kalo kebanyakan!! Ya seperti itulah kiranya main media sosial di jaman sekarang. Media sosial di jaman semua platform mau meniru Snapchat dan bikin segala bentuk story-story-an. Banyak manusia mulai membagi kehidupan yang sebenarnya tak perlulah dibagi. Lebih banyak pula manusia yang mengonsumsi hidup orang lain walaupun sebenarnya tidak memerlukan dan akhirnya cuma jadi racun untuk hidupnya.
Melalui tulisan ini saya tidak sedang mencoba berkata bahwa media sosial itu racun dunia yang perlu dijauhi juga sih. Main media sosial ada banyak pula kok faedahnya, termasuk mendukung usaha personal branding di jaman masuk job fair rasanya sudah seperti belanja di pasar beringharjo ketika bulan puasa ini. Seperti yang sudah-sudah, apa yang berlebih-lebihan itu tidak baik. Seperti makan sate kambing, kalau kebanyakan akhirnya darah tinggi juga. Kalau sudah mulai ada gejala stroke karena kebanyakan lihat informasi nir faedah di media sosial, ada baiknya saya sarankan untuk berhenti sejenak menikmati kicau burung di pagi hari, memberi makan ayam peliharaan kalau punya, dan menghapus aplikasinya sebentar saja dari ponsel Anda.
2.02.2017
Early 20
Sambil membersihkan sisa-sisa bumbu ayam bakar seorang teman tiba-tiba berkata, "kok bisa ya, tiba-tiba ada banyak surprise dalam kehidupan." Sembari terus mencoba menghabiskan apa yang ada di atas piring, ia kemudian merunut kejadian-kejadian yang tidak pernah kami duga sebelumnya. "Kok bisa ya?" lagi-lagi dia berkata begitu. Setengah jam kemudian teman saya itu menangis tersedu-sedu. Menangis karena dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Saya hanya diam sambil nyengir-nyengir tak tahu mau berkata apa lagi. Hanya bisa berujar, "Susah ya, aku juga ga tau kamu harus apa."
Beberapa hari yang lalu, saya berjumpa dengan teman lama yang berbulan-bulan tidak saya temui. Namun, obrolan kami di chat selalu panjang, memeras pikiran. Teman kami tak pernah berhenti mencari sensasi. Kami berdua selalu mengakhiri chat dengan, "Ya udah lah, pusing juga, kita kan juga punya hidup." Hari berikutnya, topik yang sama bergulir lagi, alasannya, "Ya tapi aku ga tega kalau teman kita berbuat begitu. Kalau bukan kita, siapa lagi yang berani mengingatkan?" Hingga akhirnya saya mengajaknya untuk bertemu. Ada kabar baru, kita harus berjumpa, begitu kiranya saya mengajaknya. Malam itu saya bercerita sambil berapi-api karena sudah lelah tapi tidak bisa untuk tidak peduli. Jadi ya lebih baik saya bagi saja cerita itu supaya tidak ada beban di hati. Akhirnya perbincangan malam itu ditutup dengan, "Sudahlah mari kita lanjutkan hidup masing-masing." Sambil memijat kening dan prihatin atas rumitnya jalinan pertemanan di sebuah lingkaran yang tadinya seru sekali.
Lalu tiba-tiba ada teman yang tidak membalas chat. Dibaca saja. Ternyata putus cinta. Oalah. Teman yang lain tiba-tiba mengajak saya berjumpa di sebuah coffee shop. Lagi-lagi, drama kehidupan lain yang saya dengar. Sepulang dari pertemuan itu saya mengirim pesan kepadanya. "Sudah lah buat apa dipikirkan sering-sering, lebih baik menyelamatkan saldo rekening kita yang sudah tak lagi sedap dipandang ini," tulis saya sambil terkulai lemas di atas tempat tidur, pusing memikirkan analisis data skripsi yang saya tidak tahu caranya supaya cepat selesai.
Susah ya jadi calon orang dewasa.
Susah ya jadi calon orang dewasa.
8.26.2016
Hello Life
Today, my co-worker said, "Are you overwhelmed with this new client?"
"Kinda," I replied while i was drinking a glass of water and staring to a blank space in front of me. I was trying to be sane after driving a long way to do things. I was trying to catch up with all my duties appropriately. "Why should I do these things by myself?" is the only question that i'm trying to answer.
Lots of things are queuing in my head while i'm still confused about how many lockets i should open. Things are getting more and more complicated day by day, but I just ignored it. My brain works like a Zombie. All the machines are on in my head, but they produce nothing. It feels like i'm running, but actually not.
This evening, I drove home. I hit the wall. I realized it after seconds. Don't ask me why i hit the wall because i'm as clueless as you are. I'm as clueless about it as i'm clueless about life. At least now I know that there are many things queuing in front of me and they've had a quarrel as well.
Thank you wall for taking me back to reality.
7.12.2016
Lebaran Digital
Idul Fitri kali ini rasanya berbeda karena banyak hal.
Yang pertama karena tahun lalu mata saya sempat memerah selepas sholat Ied. Mata saya memerah karena menemukan bahwa tidak ada ritual-ritual yang biasa saya lakukan selama 20 tahun terakhir hidup saya di hari Idul Fitri, makan opor dan ketupat, bertemu seluruh keluarga saya, dan sungkeman dengan keluarga. Tahun lalu, keluarga saya baru. Tidak ada opor. Saya tidak kenal dengan orang-orang yang datang ke rumah yang baru saya tinggali selama dua minggu. Saya di sebuah pulau kecil dalam rangka 'mengabdi' karena kebetulan saya mahasiswa sebuah kampus 'kerakyatan'.
Tahun ini, menjelang lebaran, mata saya sering sekali sedikit berair. Bukan sakit mata, tapi ada orang lain yang tinggal di rumah saya yang baru itu dan saya iri padanya. Ternyata saya rindu pada mereka yang ada di tempat yang jauh itu. Hehe. Sekarang yang saya sebut rumah dan keluarga jadi dua ternyata.
Pertanyaan yang muncul juga makin kompleks. Bukan hanya "kelas berapa?" tapi menjadi "sudah lulus belum?", "kapan wisuda?", "skripsi sampe mana?", "sekarang sibuk apa?", "pacarnya yang mana?". Ya gampang sih jawabnya, tapi kalau sampe ditanya lima kali dalam sepuluh menit kan capek :) Untungnya masih sering dikira masih SMP. Terima kasih tubuh yang tak meninggi.
Bayi-bayi yang bertemunya cuma setahun sekali atau kadang dua kali itu juga tiba-tiba sudah lulus SD. Tiba-tiba mereka follow Snapchat saya, atau Instagram. Untung bukan Path atau Twitter. God save my personal lifeee.
Satu lagi yang baru. Cara mengungkapkan ucapan lebaran. Dulu waktu SD-SMP adalah saat yang penting untuk sedia pulsa di malam takbir guna membalas SMS yang banyak serta menyusun kata-kata lucu atau.....copas ucapan lucu. Beberapa tahun terakhir, keberadaan Facebook dan social media lain memberi tambahan bagi ritual ucapan lebaran, yaitu pasang status atau mention teman rombongan.
Di tahun ini, rasanya semua itu sudah usang. Yang paling mencolok di tahun ini adalah, ucapan lebaran yang lucu-lucu itu sudah berubah menjadi ucapan-ucapan dalam bentuk visual, bukan lagi teks. Path dengan fitur #pathdaily seolah menguatkan dan mendukung perubahan ini. Kini, siapa saja bisa membuat ucapannya berbentuk visual hanya dengan mengetik #pathdaily. Mengirim ucapan menjadi semudah "share to another chat" kalau mau lebih mudah lagi, bagikan saja di grup niscaya sudah meminta maaf pada banyak orang sekali waktu.
Saya tahu persaingan di dunia ini semakin berat dari ucapan-ucapan lebaran visual itu. Semua orang bisa melakukan apa saja dengan mudah dan cepat, yang membedakan adalah niat dan kesungguhan.
Selamat menjalani kehidupan biasa setelah Idul Fitri semoga usaha memaafkannya benar-benar berhasil.
4.11.2016
Jakarta - Banda Neira
Delapan bulan terakhir, saya
benar-benar menghentikan ritme kehidupan biasa saya. Semua kesibukan yang
tadinya tertata rapi di tempatnya saya singkirkan sejenak demi memberi ruang
bagi souvenir-souvenir kehidupan yang hanya bisa didapatkan dengan menyusup ke
ritme yang seharusnya bukan jadi milik saya di saat ini. Selama itu, saya
mengalami berbagai rupa jenis manusia. Mulai dari tempat yang tidak terlihat oleh
dunia hingga kota yang selalu diamati oleh jutaan orang di negara ini setiap
hari.
Setelah pulang dari Banda Neira,
saya kembali sejenak di Yogyakarta hingga akhirnya memutuskan untuk mencicip
rasa Ibukota. Beruntungnya saya masih mendapat waktu untuk kembali sejenak di
Yogyakarta, jika tidak, mental saya bagaikan dicelup ke air mendidih setelah
direndam di air dingin. Yogyakarta adalah netralisir bagi kehidupan lambat yang
saya alami di Banda Neira untuk selanjutnya bisa merasakan kehidupan cepat
penuh sesak ala kota metropolitan.
Jakarta dan Banda Neira jelas
berbeda. Lalu apa yang sama? Saya tidak pernah mencoba menanyakan pertanyaan
itu apalagi menjawabnya hingga pada suatu hari saya duduk di sebuah bar dan
melihat pekerja-pekerja urban bergerak tak tentu arah mengikuti irama musik.
Tiba-tiba saya mengingat lagu maumere yang setiap hari saya dengar dari speaker
besar di belakang rumah tempat saya tinggal di Banda Neira.
Ya, jangan harapkan jawaban serius dari saya,
hanya saja ini nampak begitu sama. Pesta. Dalam sekejap pandangan saya terhadap
kaum urban dan segala atributnya berubah ketika lirik “cintaku padamu takkan
pernah berubah..” mengiang dalam kepala di tengah sebuah pesta ala kota
metropolitan yang penuh dengan lampu neon dan dentum musik. Mereka sama saja,
tidak jauh berbeda dari orang-orang yang terhantam ombak setiap hari di timur
sana.
Tubuh saya tiba-tiba bergerak
ketika musik semakin riuh. Sambil menyesap minuman yang rasanya sama seperti
cairan hasil penyulingan aren yang begitu dahsyat di Banda Neira. Bedanya,
minuman yang saya minum datang dari seorang bartender bergaya, sedangkan hasil
sulingan aren itu datang dari botol air mineral bekas. Saya kemudian ingat,
orang-orang di sana bergoyang setelah menyesap campuran bir dan sulingan aren
yang akrab dipanggil Sopi itu. Bahkan,
terkadang mereka yang kuat lebih memilih untuk menenggak segelas sopi murni. Serupa dengan satu shot tequila yang tak ada artinya
dibanding Sopi. Ah tau apa saya
tentang minuman keras.
Yang jelas sejak malam itu saya
bersyukur telah berlayar sedemikian jauh untuk salah satunya mencoba berjoget
di bawah tenda sederhana diiringi lampu neon seadanya dan musik disko ala
Indonesia timur. Satu hal yang saya pelajari, ikut pesta di sebuah pulau kecil
ternyata bisa mengajarkan banyak hal tentang manusia urban. Sebuah kabar
gembira bahwa ada hal yang tidak akan menjadi mengejutkan bagi mereka yang ada
di pulau itu jika tiba-tiba harus menjadi bagian dari kota ini.
Sejak saat itu saya sadar bahwa
sesungguhnya manusia-manusia ini sama-sama terasing dan perlu dihibur. Yang
satu terasing dari daratan lainnya dan yang satu lagi terasing dari ritme
kehidupan wajar karena harus berhadapan dengan setumpuk pekerjaan. Pada
akhirnya mereka harus berjoget serta membuat diri sendiri lupa akan
keterasingan itu.
“Mereka pesta dan berdansa seolah tak ada apa-apa, ada banyak cara untuk
menutupinya”, begitu kata Ramondo Gascaro di lagunya yang berjudul “Oh,
Jakarta”
---
Pada suatu malam di perjalanan
pulang yang begitu panjang, saya melihat seorang perempuan muda dihardik sesama
penumpang busway karena membuang sampah sembarangan di dalam bus.
Segera saja terbayang di benak
saya wajah Icha, Wiwis, Pipin, Arini, Ija, dan anak-anak Banda lainnya. “Kak
Arin, beta masukan sampahnya ke dalam tas ya,” begitu ucap salah satu dari
mereka ketika kami berjalan pulang bersama melewati Benteng Belgica. Saat itu,
saya terkesiap mendengar pernyataan itu. Adalah sebuah kabar gembira ketika anak-anak
itu dengan sukarela menyimpan sampah pembungkus makanannya dan berniat
membuangnya hingga bertemu tempat sampah. Sebuah harapan tiba-tiba terbit di
kala matahari hampir tenggelam. Satu kalimat itu berarti banyak di tengah
kebingungan kami terhadap sampah yang menumpuk dan mengotori laut di sekitar pulau
itu. Sampah-sampah yang tidak tahu harus dibawa ke mana karena laut bukan
tempat yang tepat untuk membuangnya sedangkan manusia tak bosan membuat sampah
setiap saat.
Lain pula cerita ketika saya
sedang berada di atas kapal pokpok menuju Pantai Wali, pantai di ujung Pulau
Banda Besar. Ketika itu, di tengah angin laut yang begitu kencang, saya mencoba
mengumpulkan sampah-sampah plastik yang kami buat dan memasukannya dalam tas.
“Haha, dasar orang kota,” begitu kata salah satu orang yang berada di atas
kapal itu. Komentar serupa saya dengar lagi ketika saya baru saja selesai makan
siang di pinggir pantai, katanya, “kalau Arin sampah ini (sampah plastik) pasti
dikumpulkan, memang dasar orang kota.” Apa yang salah sih dengan menjadi orang
kota? Pikir saya.
Melihat orang membuang sampah
sekenanya di Jakarta bukan lagi hal yang asing bagi saya. Sering saya lihat
orang-orang bergaya kantoran membuang sampah di mana saja seolah Jakarta bisa
menelan limbah mereka dalam beberapa detik. Apakah saya harus berkata, “dasar
orang kota,” persis seperti kakak piara saya?
Setiap kali berada pada kejadian
seperti itu, rasanya saya ingin bercerita panjang pada mereka. Bercerita bahwa
sebagai ‘orang kota’ kita punya beban yang begitu besar di mata banyak orang di
luar sana, yaitu menjaga kebersihan laut, bumi, dan seisinya. Saya ingin
berkata pada mereka,”mati-matian aku bawa sampah-sampah itu di dalam tasku
meskipun angin laut begitu kencang dan ombak hampir menelan kami yang penting plastik-plastik
itu tidak tercecer membunuh karang. Sudah begitu, aku masih saja disamakan
denganmu, disebut sebagai ‘orang kota’.”
Di saat yang sama pula, saya
ingin menelepon orang-orang yang mengatai saya ‘orang kota’ dan berkata, “Kak, jang pernah lai pikir orang
yang buang sampah pada tempatnya itu ‘orang kota’. Barang dong saja ada buat
kota kotor. Tar perlu lah katong jadi ‘orang kota’ kalau mau bekeng kebaikan.
Lebih bagus lai kalau dong yang pane sebut ‘orang kota’ itu bisa belajar dari
pane. Percaya deng beta, ‘orang kota’ itu tar semua bekeng kebaikan,” ah sok
menasehati sekali sih saya. Kak, jangan
salah, buang sampah pada tempatnya itu bukan kebiasaan orang kota, tapi
kebiasaan manusia yang berusaha peduli pada sesamanya.
Sejak itu saya punya harapan
besar pada Icha, Wiwis, Pipin, Arini, Ija, dan anak-anak Banda lainnya. Jika
akhirnya mereka harus pergi dari Neira, mereka akan menjadi ‘orang Neira’ yang
berusaha peduli terhadap sesamanya dengan membuang sampah pada tempatnya.
Menjadi ‘orang Neira’ saja cukup untuk menjadi warga yang baik di setiap
tempat, termasuk di kota besar penuh tipu muslihat macam Jakarta. Karena
sesungguhnya, makna ‘orang kota’ yang disebut kakak piara saya dan
kawan-kawannya itu tidak ada. Yang ada adalah, orang-orang yang mau menyayangi
kotanya dan sekitarnya atau tidak.
11.24.2015
Kedatangan
Kemarin, saya bertemu dengan sekelompok mahasiswa dari universitas di kota tetangga yang akan segera berangkat ke Banda Neira untuk KKN.
Pada menit pertama, tanpa banyak pertanyaan untuk dijawab, saya menumpahkan segalanya. Ingatan yang telah saya rekam seolah terputar begitu saja di kepala. Sejak kisah panjang yang saya kicaukan itu, saya menyadari, bahwa ternyata saya rindu tempat itu, saya jatuh cinta pada dalamnya lautan Banda, dan mungkin sebagian dari diri saya tertinggal di sana. Hampir tiga jam saya bercerita panjang tentang tempat itu. Tempat yang jauhnya delapan jam perjalanan dari Ambon menggunakan Kapal Pelni, empat jam menggunakan kapal cepat, dan satu jam menggunakan pesawat perintis. Tempat yang wangi rempahnya telah bercampur menjadi kehangatan. Tempat yang baru saja saya cari di Google Maps untuk kesekian kalinya dan tetap tidak terlihat jika tidak diperbesar sebanyak tiga kali.
Baru saja, saya tertawa di depan laptop sambil mengerutkan kening. Bagaimana bisa saya mencapai tempat yang mungkin sebagian besar orang di dunia ini tidak pernah menyadari ada daratan di sana. Di tengah lautan, di tenggara Pulau Ambon. Masih terheran-heran, bagaimana ada manusia yang tinggal di sana dan saya mengenal mereka. Kepulauan sekecil itu.
Pantas saja, ada lebih banyak orang yang berpikir tentang duo Ananda Badudu dan Rara Sekar ketimbang kepulauan ketika saya menjawab "Banda Neira" untuk pertanyaan "KKN di mana?" Yang merasa tau tempat itu, tenang saja. Persentase golongan kalian juga masih banyak, tapi yang berkomentar "hah? emangnya nama band?" juga tidak sedikit. Maka, sebagai usaha untuk memperbanyak golongan yang mengenal Kepulauan Banda Neira, biarkan saya bercerita tentang tempat penuh kisah itu.
Banda Neira adalah bagian yang tidak mungkin hilang dari rangkaian sejarah panjang penjajahan bangsa barat di negeri kita. Adalah aroma pala dari Banda, salah satu faktor yang mengundang bangsa barat untuk singgah dan menetap di negeri kita. Bahkan, P. Run, salah satu pulau di Banda Neira, pernah ditukar gulingkan dengan Manhattan, New York oleh Inggris dan Belanda. Secara tidak langsung, kepulauan ini punya andil besar terhadap hadirnya kota metropolitan tempat sebagian besar orang berpaling saat ini. Sungguh sebuah ironi ketika banyak orang mengenal New York dan sebagian besar dari mereka tidak tahu pasti di mana Banda Neira.
Ketika kali pertama kapal mendekat ke P. Run, pulau terdepan di Banda Neira, saya sudah mulai berbinar-binar. Akhirnya, setelah tiga hari perjalanan panjang penuh perjuangan kami sampai juga di sini, pikir saya. Kemudian, dengan mata yang berbinar, saya pun ternganga, beberapa lumba-lumba melompat di lautan. Saya tak menyangka, begitu cepatnya kah lumba-lumba menyapa kami. Saya tak menyangka, kebahagiaan bisa sedini itu diapatkan bahkan sebelum menginjakan kaki di daratannya.
Tibalah saatnya kami melintasi sebuah selat kecil di antara Pulau Neira dan Gunung Api Banda, tandanya waktu merapat sudah semakin dekat. Hiruk pikuk manusia di dalam Kapal Tidar menjadi semakin ramai, riuh, nampak kacau. Beberapa mulai bersiap mengangkat, menggendong, memanggul, dan segala kata kerja yang bisa berarti membawa bawaan masing-masing. Tiba saatnya tangga kapal diturunkan, keramaian makin meningkat, kuli kapal berlarian, logat Banda terdengar semakin kuat di setiap sudut. Sampailah kami di Pulau Neira dengan segala kekacauan khas angkutan mudik lebaran.
Setelah hiruk-pikuk pelabuhan dan usaha menurunkan seluruh barang dengan susah payah, akhirnya kami menginjakan kaki di Pulau Neira disambut dengan suara petasan yang menjadi soundtrack bulan Ramadhan. Pulau ini menjadi pusat di Banda Neira, di mana pasar yang menyediakan segala jenis kebutuhan berjalan. Pulau yang dua bulan kemudian saya cintai dengan sepenuh hati beserta isinya. Saya tidak sedang membual, hanya ada dua kemungkinan, saya benar-benar mencintainya atau saya hanyalah orang asing ngehek yang terlalu kagum pada sudut lain Indonesia. Yang jelas, hingga saat ini, saya merindukan tempat itu dan masih terus membayangkan rasanya berjalan ke seluruh penjuru pulau sebelum tidur.
Banda Neira adalah bagian yang tidak mungkin hilang dari rangkaian sejarah panjang penjajahan bangsa barat di negeri kita. Adalah aroma pala dari Banda, salah satu faktor yang mengundang bangsa barat untuk singgah dan menetap di negeri kita. Bahkan, P. Run, salah satu pulau di Banda Neira, pernah ditukar gulingkan dengan Manhattan, New York oleh Inggris dan Belanda. Secara tidak langsung, kepulauan ini punya andil besar terhadap hadirnya kota metropolitan tempat sebagian besar orang berpaling saat ini. Sungguh sebuah ironi ketika banyak orang mengenal New York dan sebagian besar dari mereka tidak tahu pasti di mana Banda Neira.
Ketika kali pertama kapal mendekat ke P. Run, pulau terdepan di Banda Neira, saya sudah mulai berbinar-binar. Akhirnya, setelah tiga hari perjalanan panjang penuh perjuangan kami sampai juga di sini, pikir saya. Kemudian, dengan mata yang berbinar, saya pun ternganga, beberapa lumba-lumba melompat di lautan. Saya tak menyangka, begitu cepatnya kah lumba-lumba menyapa kami. Saya tak menyangka, kebahagiaan bisa sedini itu diapatkan bahkan sebelum menginjakan kaki di daratannya.
Tibalah saatnya kami melintasi sebuah selat kecil di antara Pulau Neira dan Gunung Api Banda, tandanya waktu merapat sudah semakin dekat. Hiruk pikuk manusia di dalam Kapal Tidar menjadi semakin ramai, riuh, nampak kacau. Beberapa mulai bersiap mengangkat, menggendong, memanggul, dan segala kata kerja yang bisa berarti membawa bawaan masing-masing. Tiba saatnya tangga kapal diturunkan, keramaian makin meningkat, kuli kapal berlarian, logat Banda terdengar semakin kuat di setiap sudut. Sampailah kami di Pulau Neira dengan segala kekacauan khas angkutan mudik lebaran.
Setelah hiruk-pikuk pelabuhan dan usaha menurunkan seluruh barang dengan susah payah, akhirnya kami menginjakan kaki di Pulau Neira disambut dengan suara petasan yang menjadi soundtrack bulan Ramadhan. Pulau ini menjadi pusat di Banda Neira, di mana pasar yang menyediakan segala jenis kebutuhan berjalan. Pulau yang dua bulan kemudian saya cintai dengan sepenuh hati beserta isinya. Saya tidak sedang membual, hanya ada dua kemungkinan, saya benar-benar mencintainya atau saya hanyalah orang asing ngehek yang terlalu kagum pada sudut lain Indonesia. Yang jelas, hingga saat ini, saya merindukan tempat itu dan masih terus membayangkan rasanya berjalan ke seluruh penjuru pulau sebelum tidur.
10.14.2015
Jikalau
Hari ini saya pergi ke pemakaman.
Malam sebelumnya, saya kebingungan. Ada sesal yang bercampur dengan keterkejutan. Ada ragu dan kebimbangan. Saya mengenalnya, tapi juga tidak. Saya punya relasi dengannya, tapi tak tergambarkan.
Adalah sebuah pentas teater yang menjadi persimpangan bagi kami. Saya di panggung, ia menonton. Esok harinya, saya menemukan seseorang me-mention akun saya di Twitter. Sebuah pujian.
Kala itu saya hanya bisa membalas dengan senang hati. Dilanjutkan dengan sedikit obrolan di lini masa. Berakhir di situ. Saya ingin tahu siapa dia.
Hari terus berjalan, lini masa makin ramai. Terkadang kami bersua di topik yang sama. Terkadang ada tanya jawab. Terkadang saya membaca kicauannya, semuanya. Menarik.
Ingin tahu lebih lanjut, saya seringkali singgah di lini masanya. Klik sana sini, menemukan tulisan tulisannya. Saya ingin berteman dengannya, pikir saya kala itu.
Tahun berganti, tidak ada yang terjadi. Sesekali saya melihatnya mengayuh sepeda di sekitar kampus. Hingga akhirnya, beberapa waktu terakhir, ia berteman dengan salah seorang sahabat saya. Katanya, ia mengingat saya. Sekali saya diajak pergi bersamanya, tapi saya ada urusan lain.
Pernah sekali saya tak sengaja bersua dengannya di sebuah kedai kopi. Ingin menyapa, tapi malu.
Terakhir, saya berjalan di belakangnya. Ia menuntun sepeda. Ia melihat saya, saya pun. Ingin menyapa, tapi malu. Nanti saja, kalau ada kesempatan lebih tepat. Nanti saja, di acara lain pasti berjumpa. Nanti saja.
Hari ini saya menyapanya. Di pemakamannya.
Saya ingin berteman dengannya. Pun tak pernah terjadi karena saya terus menunda. Nanti saja.
Selamat jalan mas Pandu Perdana Putra. Terima kasih pernah membuat lini masa saya menjadi menyenangkan. Saya suka tulisan-tulisanmu. Ada suatu masa ketika saya merasa sangat mengenalmu. Maaf saya terlalu banyak malu hingga berteman sungguhan pun tak bisa. Selamat telah menjadi golongan yang beruntung karena mati muda!
Semoga bahagia di sana :)
Malam sebelumnya, saya kebingungan. Ada sesal yang bercampur dengan keterkejutan. Ada ragu dan kebimbangan. Saya mengenalnya, tapi juga tidak. Saya punya relasi dengannya, tapi tak tergambarkan.
Adalah sebuah pentas teater yang menjadi persimpangan bagi kami. Saya di panggung, ia menonton. Esok harinya, saya menemukan seseorang me-mention akun saya di Twitter. Sebuah pujian.
Kala itu saya hanya bisa membalas dengan senang hati. Dilanjutkan dengan sedikit obrolan di lini masa. Berakhir di situ. Saya ingin tahu siapa dia.
Hari terus berjalan, lini masa makin ramai. Terkadang kami bersua di topik yang sama. Terkadang ada tanya jawab. Terkadang saya membaca kicauannya, semuanya. Menarik.
Ingin tahu lebih lanjut, saya seringkali singgah di lini masanya. Klik sana sini, menemukan tulisan tulisannya. Saya ingin berteman dengannya, pikir saya kala itu.
Tahun berganti, tidak ada yang terjadi. Sesekali saya melihatnya mengayuh sepeda di sekitar kampus. Hingga akhirnya, beberapa waktu terakhir, ia berteman dengan salah seorang sahabat saya. Katanya, ia mengingat saya. Sekali saya diajak pergi bersamanya, tapi saya ada urusan lain.
Pernah sekali saya tak sengaja bersua dengannya di sebuah kedai kopi. Ingin menyapa, tapi malu.
Terakhir, saya berjalan di belakangnya. Ia menuntun sepeda. Ia melihat saya, saya pun. Ingin menyapa, tapi malu. Nanti saja, kalau ada kesempatan lebih tepat. Nanti saja, di acara lain pasti berjumpa. Nanti saja.
Hari ini saya menyapanya. Di pemakamannya.
Saya ingin berteman dengannya. Pun tak pernah terjadi karena saya terus menunda. Nanti saja.
Selamat jalan mas Pandu Perdana Putra. Terima kasih pernah membuat lini masa saya menjadi menyenangkan. Saya suka tulisan-tulisanmu. Ada suatu masa ketika saya merasa sangat mengenalmu. Maaf saya terlalu banyak malu hingga berteman sungguhan pun tak bisa. Selamat telah menjadi golongan yang beruntung karena mati muda!
Semoga bahagia di sana :)
6.19.2015
Hore!
Menulis posting ini dapat diibaratkan seperti sedang berbuka puasa. Lega. Akhirnya. Alhamdulillah.
Ada pelajaran yang saya petik dari ikut 31 Hari Menulis tahun ini, jika merasa tidak mampu, ya sudah. Namun, saya tetap bersyukur ikut 31 Hari Menulis yang hebat ini karena kalau tidak ikut saya tidak akan pernah paham kalau saya tidak sehebat yang saya pikirkan. Rasa-rasanya masih harus banyak belajar supaya bisa menulis dengan baik apalagi sepertinya tulisan saya makin tidak bermutu dari hari ke hari. Sering-seringnya saya ngantuk, tidak unya ide, malas ngetik, pusing, dan akhirnya ngepost satu kalimat yang intinya sama "tolong jangan didenda."
Di tahun ini saya dapat empat kapak Bang Wiro. Sudah cukup membuat saya sedih lantaran biaya hidup semakin tinggi menjelang KKN. Tapi tidak apa, bang. Saya kini menyadari bahwa saya harus banyak berbenah dan sering-sering menulis lagi. Terima kasih, Bang, berkat jasamu kini saya bertekad untuk bisa menulis tanpa perlu diawasi Abang lagi.
Muah. Aku sayang abang Wiro.
6.16.2015
zzzzzzz
bzzzz...bzzzz...bzzzz
bz.
bz.
bz.
rrrrr...
rrrr.....
r,,,,
khhhhh....
kh.
kh.
there's insufficient storage in my brain.
bz.
bz.
bz.
rrrrr...
rrrr.....
r,,,,
khhhhh....
kh.
kh.
there's insufficient storage in my brain.
6.15.2015
Kenyataan
Ada yang bilang sekarang kita punya dua dunia. Online dan Offline. Tau tidak apa bedanya? Bedanya, di dunia nyata kita tidak bisa mendelete begitu saja orang-orang di sekitar kita. Matilah itu semboyan my account my rules. Di dunia nyata, tidak ada itu cerita seseorang tiba-tiba suaranya tidak bisa didengar sama sekali oleh kita karena sebenci-bencinya saya sama orang tetap saja kalau ia bicara sekecil apapun di dekat saya pasti terasa. Di dunia maya hidup lebih ringkas, jengah dengan si A, matikan saja aliran informasi darinya di media sosial kita, done!
Andai saja hidup di dunia nyata semudah menekan-nekan tombol seperti di dunia maya, saya tidak tahu lagi bagaimana nasib mereka. Mereka yang terkadang ingin saya tekan hidungnya dan segera menghilang dari pandangan saya. Saya juga bisa memilih harus mendengarkan siapa dan membuat senyap beberapa orang.
Sayangnya, hidup tidak semudah di dunia maya. Sayangnya.
6.14.2015
Menunggu Kereta
"Kereta Prameks tujuan Yogyakarta akan segera datang dari arah timur menuju jalur tiga," begitu kata-kata petugas peron yang terdengar di seluruh stasiun. Puluhan orang bergegas melompati jalur empat dan berjajar di belakang garis kuning menunggu dan bersiap untuk melompat ke atas kereta.
Saya dan Diah berjalan santai mengikuti orang-orang yang berkumpul di sepanjang garis kuning itu. Kami berdiri di sebelah seorang bapak berkumis yang menggendong tas besar di punggungnya.
"Prameks ini sampai mana ya berhentinya?" tanyanya tiba-tiba
"Stasiun Tugu aja pak"
"Oh, ga sampai purwokerto dan selanjutnya? Balik lagi gitu?"
"Iya pak"
Setelah menanyakan beberapa hal lagi, si Bapak kemudian bertanya lagi, "kuliah di mana?"
"UGM, pak"
"Jurusan apa?"
"Komunikasi"
"Ooooh"
"Kalau teknik elektro UGM itu bagus nggak sih?"
"Bagus kok, pak, favorit juga"
"Oh gitu ya, soalnya anak saya keterima di teknik elektro UGM"
"Oh bagus dong, pak, banyak saingannya juga pas masuk"
"Iya, anak saya itu keterima di teknik elektro UGM, teknik mesin UI, terus tambang dan minyak ITB. Eh, anak saya pilih ITB-nya aja"
".....ooh"
"Kalau liat anak-anak kaya kalian gini saya jadi ingat sama anak saya, kaya gini juga lah anak saya"
Kemudian kereta datang dan kami melompat ke atas kereta.
Bapaknya ini humblebrag abis. Anaknya kalo nggak pinter banget bisa dibilang apa ya itu..... tapi ya gitu... namanya juga orangtua yang sudah terlanjur bangga, mau gimana lagi :")
Halo mbak atau mas yang kuliah di ITB itu, mungkin kamu nggak sadar kalau ayahmu begitu bangga sama kamu. Sampai-sampai beliau bisa tiba-tiba inget kamu dan cerita tentang kamu ke orang asing seperti tadi siang. Disayang terus ya bapaknya, mbak dan mas :)
Saya dan Diah berjalan santai mengikuti orang-orang yang berkumpul di sepanjang garis kuning itu. Kami berdiri di sebelah seorang bapak berkumis yang menggendong tas besar di punggungnya.
"Prameks ini sampai mana ya berhentinya?" tanyanya tiba-tiba
"Stasiun Tugu aja pak"
"Oh, ga sampai purwokerto dan selanjutnya? Balik lagi gitu?"
"Iya pak"
Setelah menanyakan beberapa hal lagi, si Bapak kemudian bertanya lagi, "kuliah di mana?"
"UGM, pak"
"Jurusan apa?"
"Komunikasi"
"Ooooh"
"Kalau teknik elektro UGM itu bagus nggak sih?"
"Bagus kok, pak, favorit juga"
"Oh gitu ya, soalnya anak saya keterima di teknik elektro UGM"
"Oh bagus dong, pak, banyak saingannya juga pas masuk"
"Iya, anak saya itu keterima di teknik elektro UGM, teknik mesin UI, terus tambang dan minyak ITB. Eh, anak saya pilih ITB-nya aja"
".....ooh"
"Kalau liat anak-anak kaya kalian gini saya jadi ingat sama anak saya, kaya gini juga lah anak saya"
Kemudian kereta datang dan kami melompat ke atas kereta.
Bapaknya ini humblebrag abis. Anaknya kalo nggak pinter banget bisa dibilang apa ya itu..... tapi ya gitu... namanya juga orangtua yang sudah terlanjur bangga, mau gimana lagi :")
Halo mbak atau mas yang kuliah di ITB itu, mungkin kamu nggak sadar kalau ayahmu begitu bangga sama kamu. Sampai-sampai beliau bisa tiba-tiba inget kamu dan cerita tentang kamu ke orang asing seperti tadi siang. Disayang terus ya bapaknya, mbak dan mas :)
6.13.2015
Hehe
Sekarang saya sedang di Solo, numpang menginap di rumah teman setelah nonton Sore.
Karena lapar, kami makan di tempat yang disebut angkringan. Tapi bingung sekali pesan di sini, baru mau pesan penjualnya bilang "sabar yo mbak" kemudian saya bingung sendiri, kok ibunya marah marah. Ternyata memang begitu. gatau kenapa. Ini ngetiknya pake hp diah, susah.
6.11.2015
Pada Suatu Sore
Keberadaan taman kota sudah lama
diidam-idamkan oleh masyarakat Jogja. Kira-kira sekitar tiga tahun yang lalu,
ketika kota-kota lain berbenah dengan taman kota dan ruang terbuka hijau
mereka, warga Jogja mulai gelisah. Bersamaan dengan itu, taman kota di Jogja
tak terlihat lagi perkembangan dan pertambahannya.
Saya penyuka taman, karena sejak kecil saya hobi sekali naik
sepeda ke taman dalam kompleks dan bermain di sana bersama teman-teman.
Tertusuk duri, daun, dan tersengat lebah adalah cerita menarik lainnya. Sejak
pindah ke Jogja, taman kota yang bisa dibuat berlarian, main petak umpet, dan
dikelilingi naik sepeda tak pernah terlihat. Sejak itu pula saya mafhum bahwa
Jogja memang tidak punya tempat semacam itu, dan ya sudahlah pikir saya. Pun
sampai ketika banyak orang mulai menginginkan taman kota di Jogja saya pun
hanya bersikap biasa saja sambil, “oh iya, memang butuh taman kota ya.”
Hingga akhirnya, pada suatu sore di Jakarta saya dan Mbak Lintang yang tidak tahu bepergian entah ke mana memutuskan untuk pergi ke Taman Suropati. Agak rumit memang menuju taman itu tanpa kendaraan pribadi. Naik bis ini dan itu nyambung ke sana ke mari dan turun di sebuah persimpangan jalan hingga akhirnya berjalan kaki. Kami berjalan kaki melewati kawasan rumah-rumah elite para duta besar. Jalanan tidak begitu ramai, ada sedikit ketenangan di sekitar sana.
Awalnya kami pikir, apa sih yang mau dilihat di taman. Hingga akhirnya, saya duduk di tengahnya. Melihat banyak orang yang begitu bersemangat melakukan ini dan itu di tengah taman kota. Ada beberapa anak yang berlarian di taman sambil meniup gelembung sabun. Ada pula pasangan muda yang mendorong bersama kereta dorong bayinya. Sekelompok pengamen berkeliling mengikuti jalur yang telah disepakati dengan kelompok pengamen lainnya supaya mereka tidak bertemu di titik yang sama. Di dekat air mancur ada beberapa orang yang sibuk membawa hewan peliharaannya. Oh ternyata mereka komunitas penyayang hewan.
Ada semangat dan ketenangan yang tidak dapat ditemukan selama perjalanan kami menuju sana. Ada kebahagiaan yang muncul dengan damai berputar-putar di udara. Taman itu seolah menjadi titik kunci bagi ruwetnya kehidupan di kota memusingkan itu. Saya tiba-tiba menemukan kesejukan yang entah berasal dari mana. Mungkin saja berasal dari abang-abang kue cubit yang mangkal di sana atau dari suara nyaring teriakan anak-anak yang berlarian di rumput.
Bisa jadi, taman kota adalah salah satu bagian kota yang mempertahankan kewarasan warganya. Sejak itu, saya jadi yakin bahwa Jakarta tidak seburuk yang saya bayangkan sejak menemukan titik kewarasan paling damai di kota itu.
6.10.2015
Kenapa Ya
Sejak ikut 31 Hari Menulis, aku sudah kena kapak bang Wiro dua kali. Iya dua kali! 40 ribu! Yang pertama karena ketiduran, yang kedua juga karena ketiduran. Intinya ketiduran karena nggak punya ide mau nulis apa lalu mikir lalu tidur lalu bangun sudah jam dua belas lewat beberapa menit. Ya nasib.
Baca-baca posting 31HariMenulis dua tahun lalu, rasanya aku jadi iri sendiri, sama diri sendiri. Kenapa ya bisa tiap hari nulis yang paling nggak ada idenya dikit gitu. Nah ini udah hari ke-20an eh tetep aja nggak ada ide apa gitu ya yang bikin pengen bisa nulis apa gitu. Kenapa ya? Apa karena sudah tua jadi otaknya tumpul? Atau karena otaknya udah dibagi-bagi buat mikirin yang lain, yang nggak-nggak juga? Kenapa ya?
Kayaknya aku butuh piknik gitu deh. Sering-sering aja butuh piknik. Gitu aja terus butuh piknik.
Kayaknya aku butuh piknik gitu deh. Sering-sering aja butuh piknik. Gitu aja terus butuh piknik.
6.09.2015
Berenang di Mimpi
Beberapa waktu yang lalu saya tertawa sendiri ketika sedang melihat-lihat post instagram seorang teman. Di post itu, saya menjadi salah seorang yang di-tag. Kira-kira komentarnya begini, "ini pakai filter apa ya? kok airnya bisa biru banget gitu?" lalu komentar balasannya menyenangkan, "nggak pakai filter apa-apa kok, aslinya udah gini warnanya, coba googling teluk hijau." Saya sebenarnya nggak tau apa yang lucu, tapi saya merasa puas saja karena kadang-kadang jengah lihat orang yang fotonya kebanyakan filter sampai objek aslinya nggak kelihatan.
Ya kalau begitu pantainya, mau pake filter apa lagi coba. Hanya Tuhan yang bisa milihin filter kalau gitu sih.
6.08.2015
Naik Gunung sambil Jogging
Saya paling lemah kalau diajak mendaki. Apapun yang menanjak. Apapun yang dilabeli bukit dan gunung. Saya paling lambat berlari, kecuali terancam. Dikejar anjing misalnya.
Januari 2015 sudah tinggal remah-remah. Saya masih menarik nafas dalam-dalam sambil menikmati angin yang berhembus setelah naik gunung sambil jogging tahun kemarin.
Ada jeda yang panjang setelah berlari sepanjang Januari hingga Desember tahun lalu. Saya sediakan jeda yang panjang. Jangan melipat kaki setelah berlari, nanti varises atau apa lah. Bisa jadi keluar pula urat-urat tak perlu dari kepala saya jika saya tak berhenti sejenak.
Sebelum tahun 2014 berakhir, saya ingin sekali menulis bermacam ungkapan rasa syukur di manapun ketika Desember resmi ditutup. Bahkan saya sudah merencanakan untuk melompat, berteriak, dan mengetik semua selebrasi tersebut dengan huruf kapital. Namun ternyata, terdiam dan menyadari semuanya telah berakhir terasa lebih melegakan dibanding sorak sorai selebrasi sia-sia. Karena akhirnya, saya berhasil selamat melewati segala halangan, rintangan, duri-duri tajam, jalanan licin, dan semak belukar sepanjang tahun. Saya tak peduli bagaimana caranya semua itu terlewat, yang penting, terlalui dan saya selamat. Yang saya butuhkan hanyalah mengatur kembali nafas setelah lari terbirit-birit keliling pulau Jawa menerjang segalanya.
Ah, tapi nampaknya saya perlu menulis sesuatu supaya tahun itu tidak hanya hilang seperti asap setelah saya membumihanguskannya.
Tahun 2014 adalah tahun penuh kepastian. Setiap harinya terisi oleh hal-hal yang pasti harus saya lakukan. Setiap harinya terisi oleh tanggung jawab yang kadang bosan saya lakukan. Di setiap waktunya saya ketahui memiliki tantangan untuk ditaklukan. Yang akhirnya menjadikan saya bosan menghadapinya. Tahun yang penuh tantangan tapi monoton. Tahun yang mengubah saya seolah kuda.
Ada hal-hal yang membuat saya sengaja mendaki gunung sambil jogging layaknya kuda. Ada hal-hal yang membuat saya terus melakukan itu semua. Namun, ada pula saat-saat ketika saya begitu tak memahami mengapa melakukan itu semua sambil tetap melakukannya. Ada obsesi untuk mengambil kemudi arah terhadap segalanya. Membuat saya tak mampu lagi memikirkan arah untuk diri sendiri.
Tahun 2014 adalah saat di mana saya sama sekali tidak ingin menikmati waktu. Saya ingin semester empat berakhir. Saya ingin semester lima berakhir. Saya ingin tahun itu segera berakhir. Ada banyak momen yang tidak saya resapi kenikmatannya karena terlalu terburu-buru untuk membuatnya berakhir.
Di tahun 2014 saya belajar untuk mempertahankan keinginan, memilah kepentingan, dan memperjuangkan kebutuhan. Saya juga belajar untuk mengubah apa yang seharusnya diubah dan juga berlatih untuk mengatakan apa yang seharusnya disuarakan meskipun kadang gagal lalu berakhir dengan gerutu tak berujung. Yang terpenting, saya belajar untuk mengukur kemampuan dan memperkirakan capaian apa lagi yang bisa diraih.
sayangnya, saya terlalu lelah mendaki gunung sambil jogging dan membutuhkan jeda panjang untuk memulihkan nafas.
------------
Menemukan tulisan ini di draft post. Tidak terasa sudah pertengahan tahun 2015, dan ternyata kali ini saya seolah sedang glundung-glundung di pinggir pantai, menikmati sepoi angin, tak peduli pada dunia alih-alih jogging apalagi mendaki gunung.
------------
Menemukan tulisan ini di draft post. Tidak terasa sudah pertengahan tahun 2015, dan ternyata kali ini saya seolah sedang glundung-glundung di pinggir pantai, menikmati sepoi angin, tak peduli pada dunia alih-alih jogging apalagi mendaki gunung.
Subscribe to:
Posts (Atom)