12.02.2013

Sudah Besar

Dulu waktu aku masih kecil... dan sekarang aku sudah besar. 

Ada berbagai macam hal yang bisa mengindikasikan kalau kamu 'sudah besar', lebih spesifik lagi, 'Sudah-besar-yang-kebingungan-karena-sudah-besar'. 


Ada sebuah masa ketika saya bisa menyebutkan keinginan saya di luar kepala. Ada pula sebuah masa dimana saya sudah lupa apa keinginan saya semenit yang lalu. 


Tadi siang, seorang teman sedang tertawa memandangi gambar tangan yang tak lain adalah hasil permainan ramalan. Permainan ramalan semasa masih menjadi anak SD rajin, kini diulang ketika saya sudah berada pada usia yuk-cepetan-dosennya-bawel. Lalu dengan semangat mengenang masa lalu, saya minta diramal juga. 

"Sebutin tiga gebetanmu!" 
"duh.. aku nggak punya.. siapa ya" 
dan akhirnya hanya diisi dengan 3 inisial nama yang lewat begitu saja di kepala. 

"Mau punya anak berapa?"
"1,2,3"

"Besok kalo nikah honeymoon di mana?"
"hmmm... Raja Ampat, Labuan Bajo, sama... Kep. Galapagos"

"Kamu mau punya mobil apa?"
"Hmm apa ya..."
pun saya tidak tahu dan berakhir dengan petunjuk dari teman-teman saya.

"Besok kalo gede mau jadi apa?"
"Aku mau jadi apa?!?!"
saya yakin, sepuluh tahun yang lalu saya akan menjawab dengan sesuka hati tanpa beban, apa saja profesi yang ingin saya raih. 

Saya akhirnya sadar sedang kebingungan karena ternyata sudah besar. Mau jadi apa? Ketika pilihan-pilihan sudah menyempit dan saya tidak tahu bagaimana menjawab tujuan serta keinginan hidup saya dengan frase-frase sederha. Sesederhana saya sepeuluh tahun yang lalu ketika menjawab "Kamu mau jadi apa?"

Tulisan yang disponsori oleh tugas komnikasi organisasi tentang kepeminpinan yang sayapun tak tahu kepemimpinan macam apa yang ingin saya tulis. 

11.19.2013

Di Banda Neira

Beberapa bulan lalu saya posting tentang Banda Neira. Saya posting tentang lagu mereka yang membuat jatuh cinta pada pendengaran pertama. Iya, lagu yang judulnya Berjalan Lebih Jauh itu.. Yang kata di lirik pertamanya "Bangun.." itu.

Jadi, hampir sepuluh hari yang lalu saya dibangunkan oleh mas Ananda Badudu, separuh dari Banda Neira, di sebuah acara bertajuk Ketapel Nada di FIP UNY. Berjalan Lebih Jauh sejatinya dinyanyikan sebagai lagu terakhir malam itu. Saya yang sudah menunggu ia berkata "Bangun.." sejak mereka membawakan Esok Pasti Jumpa sebagai pembuka segera menutup mata. "Biar serasa dibangunin beneran..," kelakar saya.

Malam itu mungkin adalah salah satu perwujudan dari mimpi jangka pendek saya tahun ini, bertemu Banda Neira. Jujur saja, meskipun saya dan teman-teman nyinyir setengah mati dengan tata panggungnya, saya tak peduli lagi ketika akhirnya Banda Neira mendapat kekuasaan penuh atas panggung usai Aurette and The Polska Seeking Carnival. Ini adalah pertama kalinya saya mendengarkan sebuah lagu dan bertekad kuat untuk bisa menonton musisinya bermain secara live.

 ***

"Kalian wartawan militan ya..," gurau Ananda Badudu dan Rara Sekar malam itu. Faida membutuhkan partner untuk interview dengan mereka, sekalian saya menunggui Butet yang juga interview, alhasil saya beruntung bisa ikut mewawancara mereka di tengah malam itu. Sebelumnya terima kasih kepada partner Faida yang bukan pendengar Banda Neira itu :).  

Sebenarnya saya ragu juga apakah saya boleh menuliskan apa-apa yang saya dapat dari interview malam itu. Lagipula malam itu saya hanya numpang Faida. Mungkin bisa klik di sini dan di sini  untuk ulasan lebih jauh.

Meski terlihat ngantuk dan lelah, mereka berdua masih mau menjawab berbagai pertanyaan. Saya masih tak percaya bahwa lagu yang menyihir saya itu dinyanyikan oleh manusia nyata, terserah saya lah kalau berlebihan. Saya masih ingat bagaimana Ananda bercerita ketika Float menghubungi mereka, "duh, migrain," ucapnya sambil tersenyum. Yang lebih membuat bahagia adalah ketika Ananda menceritakan tentang sedikit proses pembuatan lagu Berjalan Lebih Jauh. Awalnya dia mau menyisipkan kata 'Bhinneka Tunggal Ika' setelah kalimat 'menyelam lebih dalam..'. Setidaknya itu membuat saya bahagia karena ia bercerita tentang lagu pertama yang membuat saya jatuh cinta pada mereka.

Intinya, saya menyebrang jalan sambil lari dan lompat-lompat setelahnya. Terserah saya lah kalau norak. Terserah saya lah, yang penting saya benar-benar 'berjumpa sampai esok' dengan mereka sampai-sampai mereka bilang yang wawancara malam itu 'wartawan militan' karena wawancara sampai jam setengah satu pagi.

***

Oh iya.. mungkin ini akan menodai posting ini. Tapi, terserah saya lah ya.. Jadi, selama menonton konser itu saya menemukan beberapa pick-up line yang nyambung dengan lirik Banda Neira yang dinyanyikan oleh mas Ananda Badudu yang bikin "duh..duh.."

"Dan jika suatu saat, buah hatiku, buah hatimu..." "Buah hati kita kan mas?" -Di Beranda

"Jendela, kursi, atau bunga di meja.." "Mas, itu rumah kita ya?" -Rindu

Yah.. kok kalo diketik garing juga ya.. udahlah ya..


11.07.2013

Teknokom

Kepada saya yang rsanaya sudah begitu lama tidak mengerjakan tugas paper berhalaman-halaman. Kepada kalian yang sudah menyicil tugas paper roro jonggrang ini sejak kemarin hari bersama jin-jin positif dalam niatan anda.

Karena malam ini tinggal jin-jin pemalas yang mungkin sudah tahu bahwa roro jonggrang akan memanipulasi waktu dan menyuruh nenek-nenek peyot di seberang jalan sana menyapu halaman lebih pagi. Karena saya tidak kenal Bandung Bondowoso yang bisa mengerjakan paper dalam semalam. Jadi, saya harus berusaha :))

11.01.2013

Selo

Sesungguhnya yang berkata 'Aku sibuk' itu biasanya lebih selo daripada yang dengan enteng berujar 'Yuk! Aku selo nih.'

Karena orang yang bilang 'Aku selo' selalu mencoba mencari celah-celah kosong untuk dapat menerima segala apapun tawaran yang datang. Entah itu main, tugas, atau apapun.

Teori asal karena saya sedang berada di antara selo dan tidak. Sibuk dan tidak. Pusing dan tidak.

10.12.2013

Kuil Untuk Butet

Hai Butet kupikir aku perlu menjelaskan dimana letak kuilmu. Kuil yang kau tunggu itu, Kuil yang kami janjikan itu. 

Senyatanya aku juga masih belum tahu dimanakah dasar dari kuil untuk dewa sehebat dirimu ini seharusnya dibangun. Di dalam atau di luar bumi aku pun tak tahu.

Jawabannya basi, klise, dan nyebahi. Di hatimu. 

Iya di hatimu. Di otakmu. Kuilnya ada di antara hati dan otakmu. Di tempat yang bisa kau susun sendiri semestamu. Materialnya pakai imajinasimu itu. Yaudah gitu aja, hehehehe. Salam manis untukmu selalu dari yang senyumnya manis sekali menemani mimpi-mimpi indahmu :)

Search This Blog