Saya melintasi tahun 2012 menuju 2013 di Semarang. Seolah mengingatkan saya akan rasa manis tahun 2012 yang disumbangkan oleh kesempatan untuk pergi ke Semarang karena mengikuti Caraka. Ingatan itu kemudian melahirkan pertanyaan, "apakah di tahun 2013 ini saya akan kembali lagi ke Semarang untuk hal yang sama?"
Sejak Caraka, akhir perjalanan saya di Semarang selalu diikuti oleh pertanyaan yang sama. Di perjalanan yang terakhir ini pertanyaan itu muncul dari Tita. Di perjalanan pulang menuju jogja, Tita mengirimkan pesannya sebelum handphone saya mati, "pertanyaan terakhir, jadinya mau komed apa komstra? harus udah milih besok februari lho, aku lupa ngasih tau, aku sama ikas komstra." Pertanyaan itu membangunkan saya yang sudah meredup seperti baterai handphone.
***
"Jadi, tahun ini kita harus bener-bener produktif sebelum berpisah sama Sri"
Ujar Tita begitu saja siang itu ditengah acara berteduh kami di sebuah tempat makan. Saya diam saja memandang piring macaroni 'n cheese yang hampir kosong. Siapa bilang waktu tidak dapat berhenti? saat itu waktu berhenti sejenak. Aku tidak sempat lagi memperhatikan ekpresi Ikas yang sedang menekuri catatan kecilnya. Kami memanfaatkan hari hujan itu untuk sedikit brainstorming dan menuliskannya di buku catatan kecil ikas. Saya sudah tau maksud perkataan itu, tapi tetap saja meminta penjelasan.
"kamu tu kayanya ambil media deh, Sri. vibe mu tuh media banget"
Pernyataan Tita selanjutnya. Disetujui Ikas dengan segera. Disangkal segera oleh saya. Saya tidak menolak untuk divonis sebagai anak media, tapi saya meminta jeda agar saya bisa memikirkannya lagi. Bisa jadi tafsiran mereka salah. Bisa jadi saya menemukan pencerahan baru. Bisa jadi.. Bisa jadi.. setengahnya karena saya tidak terima mereka sudah bersiap-siap untuk berpisah dengan saya.
1.24.2013
1.01.2013
Teh Celup
Dan akhirnya badai matahari itu tidak jadi menerpa bumi.
2012 adalah tahun yang sangat kontroversial bagi seluruh penduduk bumi, tapi nyatanya 2012 mampu menyelesaikan tugasnya di tanggal 31 Desember, bukan tanggal 21 Desember. Ah, jangan-jangan suku maya itu typo.
Ada banyak yang saya dapatkan di tahun yang februarinya ada 29 ini. Saya sebut tahun ini tahun teh celup, rasanya instan.
Awal tahun diisi dengan semakin tingginya tingkat kerisauan akademik seiring dengan mendekatnya Ujian Nasional. Saya ingat bagaimana saya menghadapi Ujian nasional dengan semangat yang standar-standar saja. Kemudian, badai kerisauan semakin kencang usai terisinya semua lembar jawab Ujian Nasional. SNMPTN datang menerpa. Saya ingat bagaimana saya terengah-engah di kawasan Kotabaru, bukan karena lari-lari, tapi sibuk belajar.
Tidak seperti yang lainnya, saya adalah petarung SNMPTN tulis sejati. Saya tidak pernah berharap dari seleksi undangan. Bukan karena sombong, tapi sepenuhnya sadar kalau kualifikasi saya tidak akan pernah lolos. Pada pendaftaran SNMPTN tulis cita-cita saya untuk pergi dari Jogja terpaksa hilang karena satu dan lain hal. Di awal bulan Juli, apa yang disebut sebagai tangis kebahagiaan terjadi begitu saja di depan layar laptop yang menampilkan kabar gembira bahwa saya diterima di UGM. Pencapaian yang cukup membahagiakan di tahun ini, tenaga saya tidak terkuras sia-sia oleh pensil 2B. Entahlah saya harus bilang apalagi, tapi ini rasanya adalah inti dari kehidupan saya di tahun ini.
Setelah itu, hidup saya mengalami transformasi yang cukup mengesankan. mengesankan? meninggalkan kesan yang cukup tidak menyenangkan sekaligus sangat membahagiakan. Diawali dengan masa ospek yang disebut ppsmb. Hingga pada akhirnya saya hidup mapan di kampus sebagai mahasiswa normal. Sebagai mahasiswa baru yang normal, saya pun mendaftar UKM. Syukurlah ada UKM yang mau menerima saya, Surat Kabar Mahasiswa UGM Bulaksumur.
Banyak hal yang terjadi setelahnya. Saya menemukan teman-teman baru yang menawarkan hal-hal baru. Entah bagaimana caranya, saya bertemu Tita, sejenis manusia yang kadang-kadang punya pikiran yang terkoneksi sama saya. Dialah yang memberi rasa pada teh celup saya. Misalnya saya tidak bertemu dengannya, mungkin saya masih jadi manusia yang biasa saja.
Ikut Pinashtika adalah pengalaman baru yang sangat asing bagi saya. Kalau tidak bertemu Tita, mungkin saya juga tidak akan berpikir untuk benar-benar ikut kompetisi ini. Sejenis pertarungan kelas dewa. Walaupun kami akhirnya tidak menang dan hanya berakhir dengan membeli minuman berkumis, tapi kami menganggap ini sebuah kemenangan besar, sebesar baliho pinasthika yang terpampang di perempatan jalan. Kami berhasil mengalahkan rasa penasaran kami tentang bagaimana rasanya memasukan karya ke sekretariat pinasthika.
Kami pun kemudian bertekad ikut Gala dinner di acara awarding night sebuah kompetisi. Caraka adalah kompetisi yang selanjutnya kami niatkan sebagai kompetisi yang gala dinner-nya dihadiri oleh kami. Inilah salah satu alasan tahun ini menjadi terasa begitu instan, karya saya, Tita, dan Ikas secara mengejutkan masuk dalam daftar finalis Caraka. Saya yakin semuanya terkejut. Apakah kiamat memang benar sudah dekat sehingga hidup saya menjadi fast-forward begini? Baru saja bermimpi tiba-tiba terwujud, ajaibnya karya kami yang masuk fnal secara teknis dibuat oleh kami bertiga, Tuhan begitu adil rasanya.
Mungkin ada bubuk soda di dalam teh celup ini. Karya Ikas membuat panitia caraka memesan sebuah piala silver berlabel radio ad. Sepiring kesempatan ikut gala dinner dan sebuah piala silver adalah suatu kenikmatan yang berlebih-lebihan di dalam teh celup ini. Seketika saya melompat memmeluk ikas saat namanya dipanggil, kabarnya segelas air yang ada di meja tumpah karena lompatan saya, tumpah bersama perasaan saya yang tumpah. Meskipun karya saya dan Tita belum mampu membawa pulang piala, tetapi kemenangan karya Ikas berhasil menutup tahun 2012 dengan rasa manis. Tahun 2012 berhasil dibungkus dengan pita yang indah.
Tak lupa,di tanggal yang ditentukan suku maya sebagai hari kiamat, angkatan kami berhasil menyelenggarakan KNP dengan cukup baik terlepas dari segala kendala tempat, cuaca, dan apapun itu. Apa yang kami ributkan hampir setengah tahun ini akhirnya terlaksana dengan cukup.
Apapun yang terjadi di tahun 2012 seolah -olah telah menjadi sebuah komposisi rasa sempurna bagi segelas teh hangat yang siap disajikan. Semoga 2013 bisa menambah varian rasa bagi teh celup saya :")
2012 adalah tahun yang sangat kontroversial bagi seluruh penduduk bumi, tapi nyatanya 2012 mampu menyelesaikan tugasnya di tanggal 31 Desember, bukan tanggal 21 Desember. Ah, jangan-jangan suku maya itu typo.
Ada banyak yang saya dapatkan di tahun yang februarinya ada 29 ini. Saya sebut tahun ini tahun teh celup, rasanya instan.
Awal tahun diisi dengan semakin tingginya tingkat kerisauan akademik seiring dengan mendekatnya Ujian Nasional. Saya ingat bagaimana saya menghadapi Ujian nasional dengan semangat yang standar-standar saja. Kemudian, badai kerisauan semakin kencang usai terisinya semua lembar jawab Ujian Nasional. SNMPTN datang menerpa. Saya ingat bagaimana saya terengah-engah di kawasan Kotabaru, bukan karena lari-lari, tapi sibuk belajar.
Tidak seperti yang lainnya, saya adalah petarung SNMPTN tulis sejati. Saya tidak pernah berharap dari seleksi undangan. Bukan karena sombong, tapi sepenuhnya sadar kalau kualifikasi saya tidak akan pernah lolos. Pada pendaftaran SNMPTN tulis cita-cita saya untuk pergi dari Jogja terpaksa hilang karena satu dan lain hal. Di awal bulan Juli, apa yang disebut sebagai tangis kebahagiaan terjadi begitu saja di depan layar laptop yang menampilkan kabar gembira bahwa saya diterima di UGM. Pencapaian yang cukup membahagiakan di tahun ini, tenaga saya tidak terkuras sia-sia oleh pensil 2B. Entahlah saya harus bilang apalagi, tapi ini rasanya adalah inti dari kehidupan saya di tahun ini.
Setelah itu, hidup saya mengalami transformasi yang cukup mengesankan. mengesankan? meninggalkan kesan yang cukup tidak menyenangkan sekaligus sangat membahagiakan. Diawali dengan masa ospek yang disebut ppsmb. Hingga pada akhirnya saya hidup mapan di kampus sebagai mahasiswa normal. Sebagai mahasiswa baru yang normal, saya pun mendaftar UKM. Syukurlah ada UKM yang mau menerima saya, Surat Kabar Mahasiswa UGM Bulaksumur.
Banyak hal yang terjadi setelahnya. Saya menemukan teman-teman baru yang menawarkan hal-hal baru. Entah bagaimana caranya, saya bertemu Tita, sejenis manusia yang kadang-kadang punya pikiran yang terkoneksi sama saya. Dialah yang memberi rasa pada teh celup saya. Misalnya saya tidak bertemu dengannya, mungkin saya masih jadi manusia yang biasa saja.
Ikut Pinashtika adalah pengalaman baru yang sangat asing bagi saya. Kalau tidak bertemu Tita, mungkin saya juga tidak akan berpikir untuk benar-benar ikut kompetisi ini. Sejenis pertarungan kelas dewa. Walaupun kami akhirnya tidak menang dan hanya berakhir dengan membeli minuman berkumis, tapi kami menganggap ini sebuah kemenangan besar, sebesar baliho pinasthika yang terpampang di perempatan jalan. Kami berhasil mengalahkan rasa penasaran kami tentang bagaimana rasanya memasukan karya ke sekretariat pinasthika.
Kami pun kemudian bertekad ikut Gala dinner di acara awarding night sebuah kompetisi. Caraka adalah kompetisi yang selanjutnya kami niatkan sebagai kompetisi yang gala dinner-nya dihadiri oleh kami. Inilah salah satu alasan tahun ini menjadi terasa begitu instan, karya saya, Tita, dan Ikas secara mengejutkan masuk dalam daftar finalis Caraka. Saya yakin semuanya terkejut. Apakah kiamat memang benar sudah dekat sehingga hidup saya menjadi fast-forward begini? Baru saja bermimpi tiba-tiba terwujud, ajaibnya karya kami yang masuk fnal secara teknis dibuat oleh kami bertiga, Tuhan begitu adil rasanya.
Mungkin ada bubuk soda di dalam teh celup ini. Karya Ikas membuat panitia caraka memesan sebuah piala silver berlabel radio ad. Sepiring kesempatan ikut gala dinner dan sebuah piala silver adalah suatu kenikmatan yang berlebih-lebihan di dalam teh celup ini. Seketika saya melompat memmeluk ikas saat namanya dipanggil, kabarnya segelas air yang ada di meja tumpah karena lompatan saya, tumpah bersama perasaan saya yang tumpah. Meskipun karya saya dan Tita belum mampu membawa pulang piala, tetapi kemenangan karya Ikas berhasil menutup tahun 2012 dengan rasa manis. Tahun 2012 berhasil dibungkus dengan pita yang indah.
Tak lupa,di tanggal yang ditentukan suku maya sebagai hari kiamat, angkatan kami berhasil menyelenggarakan KNP dengan cukup baik terlepas dari segala kendala tempat, cuaca, dan apapun itu. Apa yang kami ributkan hampir setengah tahun ini akhirnya terlaksana dengan cukup.
Apapun yang terjadi di tahun 2012 seolah -olah telah menjadi sebuah komposisi rasa sempurna bagi segelas teh hangat yang siap disajikan. Semoga 2013 bisa menambah varian rasa bagi teh celup saya :")
11.17.2012
Kangen
'Aku kangen sama kamu' sometimes sounds like a bullshit.
dan begitu pula dengan saya yang menyatakan barisan kata itu hanya dengan kekuatan suara tenggorokan saya dibantu bibir saya. Tanpa perasaan apapun. 'Aku kangen kamu' menjadi sekadar formalitas remeh temeh belaka. untuk yang lama tak terlihat, untuk teman lama, untuk mereka yang jauh, untuk mereka yang tak mau menampakan diri, 'Aku kangen kamu' diatur untuk diucapkan begitu saja pada mereka. Ada konstruksi buruk tentang 'Aku kangen kamu' di kepala kita, setidaknya sebagian besar orang. Bahwa mereka yang tak pernah kau lihat akan bermandi 'Aku kangen kamu' ketika bertemu tanpa terkecuali apakah kau peduli akan kedatangan dan kepergiannya ataupun tidak.
Ada banyak 'Aku kangen kamu' yang ditinggalkan begitu saja di kotak harapan orang-orang yang merasa pergi. Mereka adalah korban dari 'Aku kangen kamu' yang diproduksi massal. ada banyak pabrik 'Aku kangen kamu' yang keberadaanya ilegal. sayangnya, pabrik-pabrik itu membuat konsumennya melegalkan penyimpanan 'Aku kangen kamu' hingga batas yang tidak wajar. Akhirnya menjadi sampah belaka, menyesaki ruang, bumi, hatimu.
dan begitu pula dengan saya yang menyatakan barisan kata itu hanya dengan kekuatan suara tenggorokan saya dibantu bibir saya. Tanpa perasaan apapun. 'Aku kangen kamu' menjadi sekadar formalitas remeh temeh belaka. untuk yang lama tak terlihat, untuk teman lama, untuk mereka yang jauh, untuk mereka yang tak mau menampakan diri, 'Aku kangen kamu' diatur untuk diucapkan begitu saja pada mereka. Ada konstruksi buruk tentang 'Aku kangen kamu' di kepala kita, setidaknya sebagian besar orang. Bahwa mereka yang tak pernah kau lihat akan bermandi 'Aku kangen kamu' ketika bertemu tanpa terkecuali apakah kau peduli akan kedatangan dan kepergiannya ataupun tidak.
Ada banyak 'Aku kangen kamu' yang ditinggalkan begitu saja di kotak harapan orang-orang yang merasa pergi. Mereka adalah korban dari 'Aku kangen kamu' yang diproduksi massal. ada banyak pabrik 'Aku kangen kamu' yang keberadaanya ilegal. sayangnya, pabrik-pabrik itu membuat konsumennya melegalkan penyimpanan 'Aku kangen kamu' hingga batas yang tidak wajar. Akhirnya menjadi sampah belaka, menyesaki ruang, bumi, hatimu.
11.08.2012
Teman Berbentuk Kotak Kaca
Sangat aneh sekali, ini jam satu malam dan saya sama sekali nggak ada niatan buat tidur. Saya tau alasannya adalah karena saya kebanyakan tidur dari kemarin. Sedihnya, besok nggak ada tugas apapun yang akan dikumpulkan, pun tidak ada ujian sama sekali karena memang uts sudah berakhir dengan tidak begitu indah padahal kalau ada tugas atau ujian, jam sepuluh malam saja rasanya ingin merayap ke tempat tidur.
Behubung lagi selo, saya mau cerita tentang kehidupan masa kecil saya. Ah, bukan kehidupan masa kecil juga sih. Anggap saja pengalaman cukup indah dengan televisi di awal tahun 2000an.
Dulu, saya anak yang cukup pemberani. Kenapa begitu? Entah keluarga saya yang pemberani atau memang saya yang sungguh sakti, tapi saya dulu waktu masih kelas 1 SD sudah sering ditinggal di rumah sendirian. Setelah dipikir-pikir mengerikan juga ya, mengingat rumah saya dulu di Jakarta bukan di Jogja yang katanya sih berhati nyaman ini. Bukannya berpikir bahwa Jakarta itu sangat mengerikan atau bagaimana, tapi yang jelas bagi saya yang sudah semakin tua ini, Jakarta ternyata terasa sangat rimba walaupun minim warna hijau. Saya juga nggak bisa membayangkan meninggalkan adik saya di rumah sendirian begitu dan kenyataannya saya dulu ditinggal di rumah sendirian.
Dulu, saya tinggal sama mama dan eyang saya di Jakarta. Eyangkung harus tinggal beberapa lama di rumah sakit kala itu. Eyang Ti saya otomatis harus tinggal di rumah sakit juga. Mama saya sibuk kerja dan kadang masih harus mampir ke rumah sakit. Papa saya di Jogja. Jadi, ya saya harus tinggal di rumah sendirian sampai sore setelah sopir antar jemput mengantarkan saya sampai rumah. Ya memang sih tidak serta-merta ditinggal begitu saja. Mama saya jelas nitipin saya ke tetangga-tetangga. Saya juga harus mengambil kunci rumah di tetangga. (Jadi ingat dulu kunci rumah gantungannya warna ijo dari apotek dan ada tulisan "semoga lekas sembuh"-nya.) Saya cuma punya bekal, "jangan nyalain kompor sendiri ya.", cukup begitu saja dan saya aman di rumah.
Saya boleh kok stay di rumah tetangga, tapi seringnya saya lebih suka stay di rumah sendiri. Kalau ada yang sering heran karena saya sering ditemukan jalan-jalan sendiri, hal itu bisa disebut sebagai peninggalan masa lalu saya yang memang sukanya sendirian di rumah. Saya nggak penyendiri kok, saya ceritanya artis komplek dulu (ya, kalo boleh pede sih). Hanya saja, saya merasa senang sekali kalau sendirian di rumah karena saya bisa menguasai rumah, main drama, ngomong sendiri, menari, nonton televisi, atau apa saja yang kira-kira asik, saya bisa jadi apa saja selama sendirian.
Ngomong-ngomong soal melakukan hal asik, salah satunya adalah nonton televisi. Dulu, pulang sekolah sekitar jam 10 pagi adalah waktunya sinetron horror tayang, kadang suzana kadang Nyi Blorong. Ada juga drama kolosal yang saya lupa namanya, tokohnya punya rambut kuncung gitu. Kalau pas lagi beruntung saya bisa ketemu Dono Kasino Indro. Memang semuanya bukan konsumsi anak-anak, tapi ya mana tau saya juga masih anak-anak ya nonton saja.
Yang paling membekas tentang tayangan televisi masa-masa itu adalah berita kriminal menjelang tengah hari. Ada banyak berita kriminal yang ditayangkan tiap harinya. Yang paling favorit dari saya adalah kasus pembunuhan, tapi saya sering takut liatnya. Yang paling saya tidak suka karena saya rasa tidak begitu jelas adalah berita penipuan. Yang paling membekas di pikiran adalah berita pemerkosaan, pencabulan, ataupun sodomi. Yang terakhir ini adalah yang bikin saya geleng-geleng kepala dan nggak paham juga bagaimana bisa anak sekecil saya bisa nonton berita macam itu. Jadi, sejak SD saya sudah kenal sama yang namanya pemerkosaan ataupun pencabulan walaupun saya juga tidak tau itu kejahatan macam apa. Yang saya tahu biasanya korbanya perempuan dan biasanya yang melakukan adalah lelaki yang tidak begitu tampan. Dulu, dalam pikiran saya, diperkosa berarti ditubruk dari depan lalu sang korban teriak-teriak dan terjadilah pemerkosaan. Saya juga nggak tahu apa yang terjadi dengan korban pemerkosaan, saya pikir mereka malu saja ditubruk laki-laki tidak dikenal. Sungguh. Istilah lain yang sungguh sangat dini saya ketahui adalah sodomi. Jujur saja, saya nggak paham dan benar-benar tidak punya gambaran tentang sodomi. Sialnya, kata sodomi adalah yang paling lama membekas di pikiran saya. Menurut saya kata sodomi itu begitu catchy semacam doremi. Jadi, Doremi itu Sodomi atau Sodomi itu Doremi. Setiap mengingat Sodomi, yanga da di kepala saya adalah warna pelangi dan Doremi.
Beruntungnya, saya tumbuh menjadi anak baik-baik. Saya menjadi anak yang begitu manis dan jarang neko-neko. Yah, setidaknya saya tidak pernah pulang malam sampai teler, yang ada teler karena kebanyakan kerjaan. Saya juga tidak pernah kepikiran untuk melihat pemerkosaan atau praktek sodomi (?) astaghfirullah. Jadi, saya ini adalah salah satu generasi yang dibesarkan oleh televisi, tapi cukup beruntung dapat tumbuh jadi anak normal yang semakin hari semakin benci televisi.
Kalau lihat adik saya nonton televisi, saya sering takut sendiri. Kosakata apa yang sudah dia simpan di sudut otaknya. kata Catchy apa yang kira-kira menarik perhatiannnya. Mungkin saja Sodomi dapat berarti Sosis Donat dan Mi atau apapun yang dapat ia pikirkan.
Saya sih hanya mau bilang bahwa bahaya televisi itu bukan hanya kehebohan publik semata. Hal itu ada di depan mata, beruntunglah anak-anak jaman sekarang tidak pernah nonton Nyi Blorong. Jangan salahkan televisi kalau anaknya tiba-tiba mempraktekan apa yang ia dapat dari televisi. Yang beli Televisi kan orang tua, ya berarti orang tua yang punya kendali remote. Kalau memang nggak sanggup mendidik anaknya tanpa televisi, ya setidaknya si anak harus punya modal kuat supaya tidak macam-macam. Dan saya merasa beruntung sekali dapat terhindar dari efek bahaya televisi, karena kata mama saya kalau saya kebanyakan nonton televisi nanti otaknya beku nggak bisa muter atau jamuran. Jadi, saya sudah dapat mengingat bahwa apa yang dikatakan televisi hanyalah sampah belaka.
Behubung lagi selo, saya mau cerita tentang kehidupan masa kecil saya. Ah, bukan kehidupan masa kecil juga sih. Anggap saja pengalaman cukup indah dengan televisi di awal tahun 2000an.
Dulu, saya anak yang cukup pemberani. Kenapa begitu? Entah keluarga saya yang pemberani atau memang saya yang sungguh sakti, tapi saya dulu waktu masih kelas 1 SD sudah sering ditinggal di rumah sendirian. Setelah dipikir-pikir mengerikan juga ya, mengingat rumah saya dulu di Jakarta bukan di Jogja yang katanya sih berhati nyaman ini. Bukannya berpikir bahwa Jakarta itu sangat mengerikan atau bagaimana, tapi yang jelas bagi saya yang sudah semakin tua ini, Jakarta ternyata terasa sangat rimba walaupun minim warna hijau. Saya juga nggak bisa membayangkan meninggalkan adik saya di rumah sendirian begitu dan kenyataannya saya dulu ditinggal di rumah sendirian.
Dulu, saya tinggal sama mama dan eyang saya di Jakarta. Eyangkung harus tinggal beberapa lama di rumah sakit kala itu. Eyang Ti saya otomatis harus tinggal di rumah sakit juga. Mama saya sibuk kerja dan kadang masih harus mampir ke rumah sakit. Papa saya di Jogja. Jadi, ya saya harus tinggal di rumah sendirian sampai sore setelah sopir antar jemput mengantarkan saya sampai rumah. Ya memang sih tidak serta-merta ditinggal begitu saja. Mama saya jelas nitipin saya ke tetangga-tetangga. Saya juga harus mengambil kunci rumah di tetangga. (Jadi ingat dulu kunci rumah gantungannya warna ijo dari apotek dan ada tulisan "semoga lekas sembuh"-nya.) Saya cuma punya bekal, "jangan nyalain kompor sendiri ya.", cukup begitu saja dan saya aman di rumah.
Saya boleh kok stay di rumah tetangga, tapi seringnya saya lebih suka stay di rumah sendiri. Kalau ada yang sering heran karena saya sering ditemukan jalan-jalan sendiri, hal itu bisa disebut sebagai peninggalan masa lalu saya yang memang sukanya sendirian di rumah. Saya nggak penyendiri kok, saya ceritanya artis komplek dulu (ya, kalo boleh pede sih). Hanya saja, saya merasa senang sekali kalau sendirian di rumah karena saya bisa menguasai rumah, main drama, ngomong sendiri, menari, nonton televisi, atau apa saja yang kira-kira asik, saya bisa jadi apa saja selama sendirian.
Ngomong-ngomong soal melakukan hal asik, salah satunya adalah nonton televisi. Dulu, pulang sekolah sekitar jam 10 pagi adalah waktunya sinetron horror tayang, kadang suzana kadang Nyi Blorong. Ada juga drama kolosal yang saya lupa namanya, tokohnya punya rambut kuncung gitu. Kalau pas lagi beruntung saya bisa ketemu Dono Kasino Indro. Memang semuanya bukan konsumsi anak-anak, tapi ya mana tau saya juga masih anak-anak ya nonton saja.
Yang paling membekas tentang tayangan televisi masa-masa itu adalah berita kriminal menjelang tengah hari. Ada banyak berita kriminal yang ditayangkan tiap harinya. Yang paling favorit dari saya adalah kasus pembunuhan, tapi saya sering takut liatnya. Yang paling saya tidak suka karena saya rasa tidak begitu jelas adalah berita penipuan. Yang paling membekas di pikiran adalah berita pemerkosaan, pencabulan, ataupun sodomi. Yang terakhir ini adalah yang bikin saya geleng-geleng kepala dan nggak paham juga bagaimana bisa anak sekecil saya bisa nonton berita macam itu. Jadi, sejak SD saya sudah kenal sama yang namanya pemerkosaan ataupun pencabulan walaupun saya juga tidak tau itu kejahatan macam apa. Yang saya tahu biasanya korbanya perempuan dan biasanya yang melakukan adalah lelaki yang tidak begitu tampan. Dulu, dalam pikiran saya, diperkosa berarti ditubruk dari depan lalu sang korban teriak-teriak dan terjadilah pemerkosaan. Saya juga nggak tahu apa yang terjadi dengan korban pemerkosaan, saya pikir mereka malu saja ditubruk laki-laki tidak dikenal. Sungguh. Istilah lain yang sungguh sangat dini saya ketahui adalah sodomi. Jujur saja, saya nggak paham dan benar-benar tidak punya gambaran tentang sodomi. Sialnya, kata sodomi adalah yang paling lama membekas di pikiran saya. Menurut saya kata sodomi itu begitu catchy semacam doremi. Jadi, Doremi itu Sodomi atau Sodomi itu Doremi. Setiap mengingat Sodomi, yanga da di kepala saya adalah warna pelangi dan Doremi.
Beruntungnya, saya tumbuh menjadi anak baik-baik. Saya menjadi anak yang begitu manis dan jarang neko-neko. Yah, setidaknya saya tidak pernah pulang malam sampai teler, yang ada teler karena kebanyakan kerjaan. Saya juga tidak pernah kepikiran untuk melihat pemerkosaan atau praktek sodomi (?) astaghfirullah. Jadi, saya ini adalah salah satu generasi yang dibesarkan oleh televisi, tapi cukup beruntung dapat tumbuh jadi anak normal yang semakin hari semakin benci televisi.
Kalau lihat adik saya nonton televisi, saya sering takut sendiri. Kosakata apa yang sudah dia simpan di sudut otaknya. kata Catchy apa yang kira-kira menarik perhatiannnya. Mungkin saja Sodomi dapat berarti Sosis Donat dan Mi atau apapun yang dapat ia pikirkan.
Saya sih hanya mau bilang bahwa bahaya televisi itu bukan hanya kehebohan publik semata. Hal itu ada di depan mata, beruntunglah anak-anak jaman sekarang tidak pernah nonton Nyi Blorong. Jangan salahkan televisi kalau anaknya tiba-tiba mempraktekan apa yang ia dapat dari televisi. Yang beli Televisi kan orang tua, ya berarti orang tua yang punya kendali remote. Kalau memang nggak sanggup mendidik anaknya tanpa televisi, ya setidaknya si anak harus punya modal kuat supaya tidak macam-macam. Dan saya merasa beruntung sekali dapat terhindar dari efek bahaya televisi, karena kata mama saya kalau saya kebanyakan nonton televisi nanti otaknya beku nggak bisa muter atau jamuran. Jadi, saya sudah dapat mengingat bahwa apa yang dikatakan televisi hanyalah sampah belaka.
11.04.2012
Nggak Tau Deh
Halo ini jam 3:14 kalo kata pojok kanan bawah laptop saya.
tadi jam setengah sembilan waktu lagi masukin daftar pustaka ke tugas UTS dasar-dasar penulisan, saya kepikiran buat naik ke atas kasur dan jadinya malah ketiduran. Sambil tidur saya mbayangin gimana kalo saya beneran ketiduran sampe pagi dan itu si tugas daspen nggak kelar, nanti saya gelimpangan mau ngeprint padahal daftar pustaka belum masuk ditambah belum belajar Pengantar Ilmu Politik buat hari itu. Syukur Alhamdulillah saya kebangun tadi jam setengah satu pagi dan berhasil memasukan Daftar Pustak ake tugas daspen saya. Saya ini tadi niatnya mau beljar Pengantar Ilmu Politik karena nampaknya soalnya cukup sangar kalau saya nggak belajar,tata cumapi malah nyangkut di blog dan akhirnya iseng ganti template blog. Bisa dilihat sekarang blog saya jadi kacau begini bentuknya dan saya bete aja lalu sudah pegel juga yaudah deh ya.... Jadi lebih baik habis ini saya cari deskripsi negara, bangsa, politik, dan apa aja deh.. serem juga tiga slide pertama nggak dishare di grup kelas lalu ternyaa lipet-ta dibagi hardcopy-nya, tapi saya ini kan sering nggak peduli kalo dikasih kertas dan paling cuma saya lipat-lipat atau buat gebukin orang dan voila! saya nggak tau itu hardcopy dimana. Eh, ada sih tapi kurang satu bab. Yaudah sabar aja deh ya.. senoga saya bisa berhasil mengarang bebas dengan isi yang tidak seenaknya besok waktu UTS Pengantar Ilmu Politik. Yuk ah..
tadi jam setengah sembilan waktu lagi masukin daftar pustaka ke tugas UTS dasar-dasar penulisan, saya kepikiran buat naik ke atas kasur dan jadinya malah ketiduran. Sambil tidur saya mbayangin gimana kalo saya beneran ketiduran sampe pagi dan itu si tugas daspen nggak kelar, nanti saya gelimpangan mau ngeprint padahal daftar pustaka belum masuk ditambah belum belajar Pengantar Ilmu Politik buat hari itu. Syukur Alhamdulillah saya kebangun tadi jam setengah satu pagi dan berhasil memasukan Daftar Pustak ake tugas daspen saya. Saya ini tadi niatnya mau beljar Pengantar Ilmu Politik karena nampaknya soalnya cukup sangar kalau saya nggak belajar,tata cumapi malah nyangkut di blog dan akhirnya iseng ganti template blog. Bisa dilihat sekarang blog saya jadi kacau begini bentuknya dan saya bete aja lalu sudah pegel juga yaudah deh ya.... Jadi lebih baik habis ini saya cari deskripsi negara, bangsa, politik, dan apa aja deh.. serem juga tiga slide pertama nggak dishare di grup kelas lalu ternyaa lipet-ta dibagi hardcopy-nya, tapi saya ini kan sering nggak peduli kalo dikasih kertas dan paling cuma saya lipat-lipat atau buat gebukin orang dan voila! saya nggak tau itu hardcopy dimana. Eh, ada sih tapi kurang satu bab. Yaudah sabar aja deh ya.. senoga saya bisa berhasil mengarang bebas dengan isi yang tidak seenaknya besok waktu UTS Pengantar Ilmu Politik. Yuk ah..
Subscribe to:
Posts (Atom)