2.02.2017

Early 20

Sambil membersihkan sisa-sisa bumbu ayam bakar seorang teman tiba-tiba berkata, "kok bisa ya, tiba-tiba ada banyak surprise dalam kehidupan." Sembari terus mencoba menghabiskan apa yang ada di atas piring, ia kemudian merunut kejadian-kejadian yang tidak pernah kami duga sebelumnya. "Kok bisa ya?" lagi-lagi dia berkata begitu. Setengah jam kemudian teman saya itu menangis tersedu-sedu. Menangis karena dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Saya hanya diam sambil nyengir-nyengir tak tahu mau berkata apa lagi. Hanya bisa berujar, "Susah ya, aku juga ga tau kamu harus apa."

Beberapa hari yang lalu, saya berjumpa dengan teman lama yang berbulan-bulan tidak saya temui. Namun, obrolan kami di chat selalu panjang, memeras pikiran. Teman kami tak pernah berhenti mencari sensasi. Kami berdua selalu mengakhiri chat dengan, "Ya udah lah, pusing juga, kita kan juga punya hidup." Hari berikutnya, topik yang sama bergulir lagi, alasannya, "Ya tapi aku ga tega kalau teman kita berbuat begitu. Kalau bukan kita, siapa lagi yang berani mengingatkan?" Hingga akhirnya saya mengajaknya untuk bertemu. Ada kabar baru, kita harus berjumpa, begitu kiranya saya mengajaknya. Malam itu saya bercerita sambil berapi-api karena sudah lelah tapi tidak bisa untuk tidak peduli. Jadi ya lebih baik saya bagi saja cerita itu supaya tidak ada beban di hati. Akhirnya perbincangan malam itu ditutup dengan, "Sudahlah mari kita lanjutkan hidup masing-masing." Sambil memijat kening dan prihatin atas rumitnya jalinan pertemanan di sebuah lingkaran yang tadinya seru sekali. 

Lalu tiba-tiba ada teman yang tidak membalas chat. Dibaca saja. Ternyata putus cinta. Oalah. Teman yang lain tiba-tiba mengajak saya berjumpa di sebuah coffee shop. Lagi-lagi, drama kehidupan lain yang saya dengar. Sepulang dari pertemuan itu saya mengirim pesan kepadanya. "Sudah lah buat apa dipikirkan sering-sering, lebih baik menyelamatkan saldo rekening kita yang sudah tak lagi sedap dipandang ini," tulis saya sambil terkulai lemas di atas tempat tidur, pusing memikirkan analisis data skripsi yang saya tidak tahu caranya supaya cepat selesai.

Susah ya jadi calon orang dewasa.   




8.26.2016

Hello Life

Today, my co-worker said, "Are you overwhelmed with this new client?"

"Kinda," I replied while i was drinking a glass of water and staring to a blank space in front of me. I was trying to be sane after driving a long way to do things. I was trying to catch up with all my duties appropriately. "Why should I do these things by myself?" is the only question that i'm trying to answer. 

Lots of things are queuing in my head while i'm still confused about how many lockets i should open. Things are getting more and more complicated day by day, but I just ignored it. My brain works like a Zombie. All the machines are on in my head, but they produce nothing. It feels like i'm running, but actually not. 

This evening, I drove home. I hit the wall. I realized it after seconds. Don't ask me why i hit the wall because i'm as clueless as you are. I'm as clueless about it as i'm clueless about life. At least now I know that there are many things queuing in front of me and they've had a quarrel as well. 

Thank you wall for taking me back to reality. 


7.12.2016

Lebaran Digital

Idul Fitri kali ini rasanya berbeda karena banyak hal.

Yang pertama karena tahun lalu mata saya sempat memerah selepas sholat Ied. Mata saya memerah karena menemukan bahwa tidak ada ritual-ritual yang biasa saya lakukan selama 20 tahun terakhir hidup saya di hari Idul Fitri, makan opor dan ketupat, bertemu seluruh keluarga saya, dan sungkeman dengan keluarga. Tahun lalu, keluarga saya baru. Tidak ada opor. Saya tidak kenal dengan orang-orang yang datang ke rumah yang baru saya tinggali selama dua minggu. Saya di sebuah pulau kecil dalam rangka 'mengabdi' karena kebetulan saya mahasiswa sebuah kampus 'kerakyatan'. 

Tahun ini, menjelang lebaran, mata saya sering sekali sedikit berair. Bukan sakit mata, tapi ada orang lain yang tinggal di rumah saya yang baru itu dan saya iri padanya. Ternyata saya rindu pada mereka yang ada di tempat yang jauh itu. Hehe. Sekarang yang saya sebut rumah dan keluarga jadi dua ternyata. 

Pertanyaan yang muncul juga makin kompleks. Bukan hanya "kelas berapa?" tapi menjadi "sudah lulus belum?", "kapan wisuda?", "skripsi sampe mana?", "sekarang sibuk apa?", "pacarnya yang mana?". Ya gampang sih jawabnya, tapi kalau sampe ditanya lima kali dalam sepuluh menit kan capek :) Untungnya masih sering dikira masih SMP. Terima kasih tubuh yang tak meninggi. 

Bayi-bayi yang bertemunya cuma setahun sekali atau kadang dua kali itu juga tiba-tiba sudah lulus SD. Tiba-tiba mereka follow Snapchat saya, atau Instagram. Untung bukan Path atau Twitter. God save my personal lifeee. 

Satu lagi yang baru. Cara mengungkapkan ucapan lebaran. Dulu waktu SD-SMP adalah saat yang penting untuk sedia pulsa di malam takbir guna membalas SMS yang banyak serta menyusun kata-kata lucu atau.....copas ucapan lucu. Beberapa tahun terakhir, keberadaan Facebook dan social media lain memberi tambahan bagi ritual ucapan lebaran, yaitu pasang status atau mention teman rombongan. 

Di tahun ini, rasanya semua itu sudah usang. Yang paling mencolok di tahun ini adalah, ucapan lebaran yang lucu-lucu itu sudah berubah menjadi ucapan-ucapan dalam bentuk visual, bukan lagi teks. Path dengan fitur #pathdaily seolah menguatkan dan mendukung perubahan ini. Kini, siapa saja bisa membuat ucapannya berbentuk visual hanya dengan mengetik #pathdaily. Mengirim ucapan menjadi semudah "share to another chat" kalau mau lebih mudah lagi, bagikan saja di grup niscaya sudah meminta maaf pada banyak orang sekali waktu. 

Saya tahu persaingan di dunia ini semakin berat dari ucapan-ucapan lebaran visual itu. Semua orang bisa melakukan apa saja dengan mudah dan cepat, yang membedakan adalah niat dan kesungguhan. 

Selamat menjalani kehidupan biasa setelah Idul Fitri semoga usaha memaafkannya benar-benar berhasil. 

4.11.2016

Jakarta - Banda Neira

Delapan bulan terakhir, saya benar-benar menghentikan ritme kehidupan biasa saya. Semua kesibukan yang tadinya tertata rapi di tempatnya saya singkirkan sejenak demi memberi ruang bagi souvenir-souvenir kehidupan yang hanya bisa didapatkan dengan menyusup ke ritme yang seharusnya bukan jadi milik saya di saat ini. Selama itu, saya mengalami berbagai rupa jenis manusia. Mulai dari tempat yang tidak terlihat oleh dunia hingga kota yang selalu diamati oleh jutaan orang di negara ini setiap hari.

Setelah pulang dari Banda Neira, saya kembali sejenak di Yogyakarta hingga akhirnya memutuskan untuk mencicip rasa Ibukota. Beruntungnya saya masih mendapat waktu untuk kembali sejenak di Yogyakarta, jika tidak, mental saya bagaikan dicelup ke air mendidih setelah direndam di air dingin. Yogyakarta adalah netralisir bagi kehidupan lambat yang saya alami di Banda Neira untuk selanjutnya bisa merasakan kehidupan cepat penuh sesak ala kota metropolitan.

Jakarta dan Banda Neira jelas berbeda. Lalu apa yang sama? Saya tidak pernah mencoba menanyakan pertanyaan itu apalagi menjawabnya hingga pada suatu hari saya duduk di sebuah bar dan melihat pekerja-pekerja urban bergerak tak tentu arah mengikuti irama musik. Tiba-tiba saya mengingat lagu maumere yang setiap hari saya dengar dari speaker besar di belakang rumah tempat saya tinggal di Banda Neira.

 Ya, jangan harapkan jawaban serius dari saya, hanya saja ini nampak begitu sama. Pesta. Dalam sekejap pandangan saya terhadap kaum urban dan segala atributnya berubah ketika lirik “cintaku padamu takkan pernah berubah..” mengiang dalam kepala di tengah sebuah pesta ala kota metropolitan yang penuh dengan lampu neon dan dentum musik. Mereka sama saja, tidak jauh berbeda dari orang-orang yang terhantam ombak setiap hari di timur sana.

Tubuh saya tiba-tiba bergerak ketika musik semakin riuh. Sambil menyesap minuman yang rasanya sama seperti cairan hasil penyulingan aren yang begitu dahsyat di Banda Neira. Bedanya, minuman yang saya minum datang dari seorang bartender bergaya, sedangkan hasil sulingan aren itu datang dari botol air mineral bekas. Saya kemudian ingat, orang-orang di sana bergoyang setelah menyesap campuran bir dan sulingan aren yang akrab dipanggil Sopi itu. Bahkan, terkadang mereka yang kuat lebih memilih untuk menenggak segelas sopi murni. Serupa dengan satu shot tequila yang tak ada artinya dibanding Sopi. Ah tau apa saya tentang minuman keras.

Yang jelas sejak malam itu saya bersyukur telah berlayar sedemikian jauh untuk salah satunya mencoba berjoget di bawah tenda sederhana diiringi lampu neon seadanya dan musik disko ala Indonesia timur. Satu hal yang saya pelajari, ikut pesta di sebuah pulau kecil ternyata bisa mengajarkan banyak hal tentang manusia urban. Sebuah kabar gembira bahwa ada hal yang tidak akan menjadi mengejutkan bagi mereka yang ada di pulau itu jika tiba-tiba harus menjadi bagian dari kota ini.

Sejak saat itu saya sadar bahwa sesungguhnya manusia-manusia ini sama-sama terasing dan perlu dihibur. Yang satu terasing dari daratan lainnya dan yang satu lagi terasing dari ritme kehidupan wajar karena harus berhadapan dengan setumpuk pekerjaan. Pada akhirnya mereka harus berjoget serta membuat diri sendiri lupa akan keterasingan itu.

Mereka pesta dan berdansa seolah tak ada apa-apa, ada banyak cara untuk menutupinya”, begitu kata Ramondo Gascaro di lagunya yang berjudul “Oh, Jakarta”
---
Pada suatu malam di perjalanan pulang yang begitu panjang, saya melihat seorang perempuan muda dihardik sesama penumpang busway karena membuang sampah sembarangan di dalam bus.

Segera saja terbayang di benak saya wajah Icha, Wiwis, Pipin, Arini, Ija, dan anak-anak Banda lainnya. “Kak Arin, beta masukan sampahnya ke dalam tas ya,” begitu ucap salah satu dari mereka ketika kami berjalan pulang bersama melewati Benteng Belgica. Saat itu, saya terkesiap mendengar pernyataan itu. Adalah sebuah kabar gembira ketika anak-anak itu dengan sukarela menyimpan sampah pembungkus makanannya dan berniat membuangnya hingga bertemu tempat sampah. Sebuah harapan tiba-tiba terbit di kala matahari hampir tenggelam. Satu kalimat itu berarti banyak di tengah kebingungan kami terhadap sampah yang menumpuk dan mengotori laut di sekitar pulau itu. Sampah-sampah yang tidak tahu harus dibawa ke mana karena laut bukan tempat yang tepat untuk membuangnya sedangkan manusia tak bosan membuat sampah setiap saat.

Lain pula cerita ketika saya sedang berada di atas kapal pokpok menuju Pantai Wali, pantai di ujung Pulau Banda Besar. Ketika itu, di tengah angin laut yang begitu kencang, saya mencoba mengumpulkan sampah-sampah plastik yang kami buat dan memasukannya dalam tas. “Haha, dasar orang kota,” begitu kata salah satu orang yang berada di atas kapal itu. Komentar serupa saya dengar lagi ketika saya baru saja selesai makan siang di pinggir pantai, katanya, “kalau Arin sampah ini (sampah plastik) pasti dikumpulkan, memang dasar orang kota.” Apa yang salah sih dengan menjadi orang kota? Pikir saya.

Melihat orang membuang sampah sekenanya di Jakarta bukan lagi hal yang asing bagi saya. Sering saya lihat orang-orang bergaya kantoran membuang sampah di mana saja seolah Jakarta bisa menelan limbah mereka dalam beberapa detik. Apakah saya harus berkata, “dasar orang kota,” persis seperti kakak piara saya?

Setiap kali berada pada kejadian seperti itu, rasanya saya ingin bercerita panjang pada mereka. Bercerita bahwa sebagai ‘orang kota’ kita punya beban yang begitu besar di mata banyak orang di luar sana, yaitu menjaga kebersihan laut, bumi, dan seisinya. Saya ingin berkata pada mereka,”mati-matian aku bawa sampah-sampah itu di dalam tasku meskipun angin laut begitu kencang dan ombak hampir menelan kami yang penting plastik-plastik itu tidak tercecer membunuh karang. Sudah begitu, aku masih saja disamakan denganmu, disebut sebagai ‘orang kota’.”

Di saat yang sama pula, saya ingin menelepon orang-orang yang mengatai saya ‘orang kota’  dan berkata, “Kak, jang pernah lai pikir orang yang buang sampah pada tempatnya itu ‘orang kota’. Barang dong saja ada buat kota kotor. Tar perlu lah katong jadi ‘orang kota’ kalau mau bekeng kebaikan. Lebih bagus lai kalau dong yang pane sebut ‘orang kota’ itu bisa belajar dari pane. Percaya deng beta, ‘orang kota’ itu tar semua bekeng kebaikan,” ah sok menasehati sekali sih saya.  Kak, jangan salah, buang sampah pada tempatnya itu bukan kebiasaan orang kota, tapi kebiasaan manusia yang berusaha peduli pada sesamanya.


Sejak itu saya punya harapan besar pada Icha, Wiwis, Pipin, Arini, Ija, dan anak-anak Banda lainnya. Jika akhirnya mereka harus pergi dari Neira, mereka akan menjadi ‘orang Neira’ yang berusaha peduli terhadap sesamanya dengan membuang sampah pada tempatnya. Menjadi ‘orang Neira’ saja cukup untuk menjadi warga yang baik di setiap tempat, termasuk di kota besar penuh tipu muslihat macam Jakarta. Karena sesungguhnya, makna ‘orang kota’ yang disebut kakak piara saya dan kawan-kawannya itu tidak ada. Yang ada adalah, orang-orang yang mau menyayangi kotanya dan sekitarnya atau tidak. 

11.24.2015

Kedatangan

Kemarin, saya bertemu dengan sekelompok mahasiswa dari universitas di kota tetangga yang akan segera berangkat ke Banda Neira untuk KKN. 

Pada menit pertama, tanpa banyak pertanyaan untuk dijawab, saya menumpahkan segalanya. Ingatan yang telah saya rekam seolah terputar begitu saja di kepala. Sejak kisah panjang yang saya kicaukan itu, saya menyadari, bahwa ternyata saya rindu tempat itu, saya jatuh cinta pada dalamnya lautan Banda, dan mungkin sebagian dari diri saya tertinggal di sana. Hampir tiga jam saya bercerita panjang tentang tempat itu. Tempat yang jauhnya delapan jam perjalanan dari Ambon menggunakan Kapal Pelni, empat jam menggunakan kapal cepat, dan satu jam menggunakan pesawat perintis. Tempat yang wangi rempahnya telah bercampur menjadi kehangatan. Tempat yang baru saja saya cari di Google Maps untuk kesekian kalinya dan tetap tidak terlihat jika tidak diperbesar sebanyak tiga kali. 

Baru saja, saya tertawa di depan laptop sambil mengerutkan kening. Bagaimana bisa saya mencapai tempat yang mungkin sebagian besar orang di dunia ini tidak pernah menyadari ada daratan di sana. Di tengah lautan, di tenggara Pulau Ambon. Masih terheran-heran, bagaimana ada manusia yang tinggal di sana dan saya mengenal mereka. Kepulauan sekecil itu. 

Pantas saja, ada lebih banyak orang yang berpikir tentang duo Ananda Badudu dan Rara Sekar ketimbang kepulauan ketika saya menjawab "Banda Neira" untuk pertanyaan "KKN di mana?" Yang merasa tau tempat itu, tenang saja. Persentase golongan kalian juga masih banyak, tapi yang berkomentar "hah? emangnya nama band?" juga tidak sedikit. Maka, sebagai usaha untuk memperbanyak golongan yang mengenal Kepulauan Banda Neira, biarkan saya bercerita tentang tempat penuh kisah itu. 

Banda Neira adalah bagian yang tidak mungkin hilang dari rangkaian sejarah panjang penjajahan bangsa barat di negeri kita. Adalah aroma pala dari Banda, salah satu faktor yang mengundang bangsa barat untuk singgah dan menetap di negeri kita. Bahkan, P. Run, salah satu pulau di Banda Neira, pernah ditukar gulingkan dengan Manhattan, New York oleh Inggris dan Belanda. Secara tidak langsung, kepulauan ini punya andil besar terhadap hadirnya kota metropolitan tempat sebagian besar orang berpaling saat ini. Sungguh sebuah ironi ketika banyak orang mengenal New York dan sebagian besar dari mereka tidak tahu pasti di mana Banda Neira. 


Ketika kali pertama kapal mendekat ke P. Run, pulau terdepan di Banda Neira, saya sudah mulai berbinar-binar. Akhirnya, setelah tiga hari perjalanan panjang penuh perjuangan kami sampai juga di sini, pikir saya. Kemudian, dengan mata yang berbinar, saya pun ternganga, beberapa lumba-lumba melompat di lautan. Saya tak menyangka, begitu cepatnya kah lumba-lumba menyapa kami. Saya tak menyangka, kebahagiaan bisa sedini itu diapatkan bahkan sebelum menginjakan kaki di daratannya. 

Tibalah saatnya kami melintasi sebuah selat kecil di antara Pulau Neira dan Gunung Api Banda, tandanya waktu merapat sudah semakin dekat. Hiruk pikuk manusia di dalam Kapal Tidar menjadi semakin ramai, riuh, nampak kacau. Beberapa mulai bersiap mengangkat, menggendong, memanggul, dan segala kata kerja yang bisa berarti membawa bawaan masing-masing. Tiba saatnya tangga kapal diturunkan, keramaian makin meningkat, kuli kapal berlarian, logat Banda terdengar semakin kuat di setiap sudut. Sampailah kami di Pulau Neira dengan segala kekacauan khas angkutan mudik lebaran. 

Setelah hiruk-pikuk pelabuhan dan usaha menurunkan seluruh barang dengan susah payah, akhirnya kami menginjakan kaki di Pulau Neira disambut dengan suara petasan yang menjadi soundtrack bulan Ramadhan. Pulau ini menjadi pusat di Banda Neira, di mana pasar yang menyediakan segala jenis kebutuhan berjalan. Pulau yang dua bulan kemudian saya cintai dengan sepenuh hati beserta isinya. Saya tidak sedang membual, hanya ada dua kemungkinan, saya benar-benar mencintainya atau saya hanyalah orang asing ngehek yang terlalu kagum pada sudut lain Indonesia. Yang jelas, hingga saat ini, saya merindukan tempat itu dan masih terus membayangkan rasanya berjalan ke seluruh penjuru pulau sebelum tidur.














Search This Blog