5.22.2015

wow it's kewl

Jadi hari ini saya baru saja menyadari kalo ada band bagus yang tidak saya pedulikan selama bertahun-tahun. Waktu itu teman saya sangat menyukainya, bahkan kalau tidak salah waktu band itu datang ke Indonesia, dengan amat bersemangat ia menontonnya. Saya yang tidak gaul apalagi hipster hanya diam-diam saja tidak peduli pada band apa yang ia tonton. Hingga..... pada hari ini.... empat tahun setelah teman saya heboh itu, saya baru sadar kalau lagu-lagu band itu bagus ya. Ya udah deh, alhamdulillah. 



5.21.2015

Gadis Pencari Sekrup

Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis termenung-menung di depan layar laptopnya. Jika kamu perhatikan matanya, maka yang kau lihat hanyalah, kedip, kedip, kedip, kedip. Sesekali ia melirik layar lebih kecil di sampingnya sambil mengetikan pembicaraan mengenai alien, duyung, mahasiswa tua, skripsi, dan ketan. Apa pula, pikirnya.

Ia tiba-tiba teringat mengapa ia begitu ngantuk malam ini. Selanjutnya, ia mengingat kejadian menyeramkan yang ia alami beberapa hari lalu dan membuatnya pergi ke Ace Hardware sore tadi.

Hari itu.. matahari bersinar begitu terik. Gadis itu, sedang sibuk mempersiapkan alat-alat untuk pembuatan tugas mata kuliah produksi iklan. Di tengah taman yang ala-ala itu, ia dan teman-temannya sibuk merangkai bunga, memasang kamera, mengarahkan talent, dan menggeser-geser slider. Si gadis kemudian ingin menggeser slider juga, kemudian ia berteriak kepada temannya "ini gimana sih kok nggak bisa jalan slidernya," sambil berusaha memutar-mutar sekrup yang ada di samping slider. Tak dinyana, si gadis yang sangat bersemangat itu terdiam seketika. Terdiam seperti kamera di atas slider yang tak mau bergeser. Mulutnya menganga, matanya berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. "Ini kenapaaaa, ini kok putus ini kenapaaa," teriaknya histeris melihat sekrup plastik yang ia putar-putar sedari tadi sobek nyaris putus dan tak bisa diputar lagi. Seketika terbayang kakak angkatannya yang bernama Acip, si pemilik slider. Harus berkata apa diriku, pikir si gadis.

Di hari pengembalian slider, si gadis bingung. Ia bingung bagaimana supaya slider itu bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Ia berusaha keras, memutar sekrup plastik, menusuk-nusuk, menarik-narik, hingga akhirnya sekrup plastik yang amat lemah itu lepas dari lubangnya. Si gadis segera menggantinya dengan sekrup besi yang tidak lemah. Sayangnya sekrup besi itu tidak cukup panjang, tapi setidaknya bisa membuat slider berjalan.

Namun... acip ingin sekrup plastik yang lemah. Ia ingin semuanya kembali seperti sedia kala. Oleh karena itu, si gadis pergi ke Ace Hardware dan menemukannya. Kenapa ke Ace Hardware? Karena si gadis tidak tahu harus bilang apa bila pergi ke toko. Benda itu terlalu rumit, seperti kehidupan. Ia hanya berharap semoga sekrup yang ia temukan sesuai dan dapat digunakan.

5.20.2015

Sarapan

Pagi yang baik adalah pagi yang diawali dengan sarapan yang cukup. Sarapan yang mampu membuatmu bersemangat sepanjang hari dan bertahan tanpa perlu cemilan tambahan sampai makan siang. Selain alasan kesehatan, punya waktu untuk sarapan berarti punya waktu cukup di pagi hari tanpa bangun kesiangan. Di hari yang cukup selo, sarapan bisa menjadi ritual yang cukup menyenangkan atau bahkan bisa menjadi aktivitas cukup berat untuk mengisi keseloan. 

Menurut saya, sarapan adalah saat makan yang paling damai. Matahari belum bersinar terlalu terik dan hawa pagi yang dingin seolah meredam kendaraan yang tergesa-gesa. Sarapan adalah makan yang paling tepat sasaran, tidak perlu bertele-tela, langsung makan! Kalau bertele-tele nanti paginya habis, kalau bertele-tele nanti terkejar hari yang berlalu begitu cepat, kecuali sedang selo lho ya. Sarapan memang cepat karena belum banyak cerita yang terkumpul layaknya saat makan malam. Sarapan adalah kedamaian yang hakiki pada suatu pagi yang cerah, apabila tidak bangun kesiangan dan tergesa-gesa.

Sarapan adalah identitas. Ada yang menyenangkan saat pergi ke kota lain dan sarapan. Ada kota yang membuka harinya dengan sayur-sayuran, kota lainnya membuka pagi dengan santan dengan kolesterol tinggi, kota lainnya lagi mengawali pagi dengan kesegaran kuah bening. Sarapan sesungguhnya adalah ritual yang amat pribadi lebih dari mandi pagi. 

Halo 31 Hari Menulis! Jangan lupa sarapan sebelum kuliah ya besok pagi :) 

5.08.2015

Biru Hijau

Saat seperti ini. Saat isi kepala dibagi-bagi dan tidak tahu harus dirapikan dengan cara seperti apa. Saat seperti ini. Saat permasalahan kecil tiba-tiba terasa besar dan mencuri tempat permasalahan besar yang mengecil terdesak. Saat seperti ini, sebaiknya duduk sebentar dan mengingat deburan ombak dan hijaunya hutan rimba di hari libur.

Belum pernah saya naik kereta selama itu. Dua belas jam. Berdesakan. Jogja - Banyuwangi. Tidur pun sampai bosan. Mimpinya bahkan sudah diulang.

Banyuwangi indah sekali. Ini bukan hanya indah, tapi memang sungguh indah. Entah kenapa semua yang saya lihat di Banyuwangi sungguh tidak tercela secara visual. Setelah turun dari kereta kami melihat taman kota yang sangat damai. Esok harinya ada hamparan biru di hadapan saya. Angin bertiup tenang, menggerakan sedikit demi sedikit pasir putih di kaki saya. Pun kedamaian di sebuah sudut pulau berpantai batu dengan air laut yang tenang. Seolah tidak perlu lah itu kuliah lama-lama sambil baca buku tebal-tebal untuk belajar perdamaian. Esoknya lagi saya melihat dunia sebagai bentangan hijau tak kunjung usai dari ketinggian. Saya melangkah setapak demi setapak mengalahkan kelemahan saya sendiri, mendaki gunung dan melihat keindahan di kawah biru yang mengepul. Lelah mendaki gunung, saya pergi ke hutan. Hewan-hewan besar berlarian di padang rumput hijau. Katanya, jika padang itu kering akan nampak lebih indah. Ah, hijau pun saya bahagia. Tidak ada bosan di kota itu. Jika bosan, lihat ke atas, ada susunan awan dan lengkungan langit yang terlalu menakjubkan bagi saya.

Saat seperti ini. Saat isi kepala dibagi-bagi dan tidak tahu harus dirapikan dengan cara seperti apa. Saat seperti ini. Saat permasalahan kecil tiba-tiba terasa besar dan mencuri tempat permasalahan besar yang mengecil terdesak. Saat seperti ini, sebaiknya duduk sebentar, cuci muka, cuci kaki, pejamkan mata, dan mimpi indah, Selamat tidur.

9.11.2014

Mission Accomplished : Kiluan!

Ada puluhan destinasi impian di benak saya dan Teluk Kiluan adalah satu dari deretan daftar itu. Pulau Kiluan yang terkenal dengan lumba - lumba berenang bebas di lautan lepas itu akhirnya terinjak juga oleh kaki. Setelah banyak tawar menawar dan pergantian destinasi ke timur dan barat, akhirnya saya berhasil berangkat juga bersama Myrna.

Ada banyak jalan menuju Roma, pun ke Kiluan. Cara pertama yang saya temukan adalah berangkat secara mandiri dan backpacker sejati menggunakan kereta ke Jakarta - Bus ke Merak - Kapal ke Bakauheni - Bus ke Bandar Lampung - Travel ke Kiluan - Naik jukung ke Pulau Kiluan - Naik Jukung lihat lumba-lumba. Nampak mudah bukan? Hanya saja jumlah kami hanya dua belum pernah menyebrang ke Bakauheni pula. Cara kedua, menuju Bakauheni secara mandiri, dijemput kenalan saudara yang ada di Kiluan. Sayangnya kami hanya berdua juga, siapalah yang membayar kursi-kursi kosong mobil sewaan nantinya kalau bukan kami.

Kami hampir menyerah dan akan berbalik ke timur lalu naik kereta hingga ke Banyuwangi dan menyebrang sampai Gilimanuk (yang tanpa disadari sesungguhnya lebih mengerikan). Demi mempertahankan keinginan dan impian saya, otak saya bekerja keras sambil mengetik berbagai macam keywords di google. Cara terakhir akhirnya saya temukan, open trip! Ah, kalau terdesak otak memang lebih cerdas dan keberuntungan tak akan pergi jauh-jauh. Di sebuah pertengahan malam akhirnya saya temukan paket open trip yang sesuai keinginan di sini . Penemuan yang begitu brilian ketika Myrna hampir menyerah dan sudah kesal dengan saya.

Perjalanan diawali dari terminal Kampung Rambutan yang juga meeting point semua peserta open trip. Sampai di Kampung Rambutan, keyakinan kami akan kebenaran keberangkatan trip ini masih sangat kurang meskipun kami sudah kepo semua akun media sosial trip leader- nya.  Kepercayaan kami akhirnya bersinar-sinar ketika akhirnya, trip leader yang begitu kami nanti-nantikan hadir di depan mata setelah satu jam menunggu di ruang tunggu terminal yang amat creepy. Saya dan Myrna bersalaman.

Perjalanan pertama menggunakan bus selama 3 jam menuju Merak. Tepat pukul 12 malam kami sampai di Merak yang ternyata begitu ngeri kalau dua anak perempuan macam kami pergi sendiri. All hail internet yang dapat mempertemukan 8 orang asing dalam satu perjalanan. Saya dan Myrna salaman lagi.

Selanjutnya, kami menyeberangi Selat Sunda dengan kapal ferri. Sejak awal pamit mau pergi ke Lampung, eyang dan om sudah mewanti-wanti "wah, pulang-pulang kamu bisa bawa tinggi (kutu kasur) dari kapal," pasalnya satu kasur di rumah sudah jadi korban kutu kasur Merak-Bakauheni dan meninggalkan banyak bentol di kulit tiap saya ke Jakarta sebelum akhirnya dibuang. Kisah itu nampaknya jadi bekal utama Myrna saat naik kapal dan bersikeras tidak mau turun dari atas kursi dan menyentuh kasur lapuk di bawahnya. Saya juga geli sebenarnya dan tidak berhasil duduk lama-lama di bawah lalu akhirnya menghabiskan tiga jam perjalanan tidur meringkuk di kursi.

Ha! Saya dan Myrna salaman lagi! Mas Trip Leader bukan penculik! Sampailah kami di Provinsi Lampung! Bandar Lampung masih jauh, saudara. Hari masih gelap, naik ke mobil setelah shalat shubuh saya tidur sampai hari terang. Ketika bangun, saya sarapan di sebuah warung yang nasi uduknya enak. Lalu tidur lagi sampai jam 9 ketika saya melihat pantai dan nyiur melambai-lambai di Pantai Klara. Saya sudah melewati Bandar Lampung saat terlelap dan terbuai mimpi. Hanya saja, perjalanan masih jauh juga saudara, jalanan masih berkelok dan bergelombang lubang-lubang.

Pukul 12 siang, saya dan Myrna salaman lagi dengan senyum luar biasa lebar! Kami benar-benar sampai Teluk Kiluan. Pasir pantainya sungguhan! Air lautnya sungguhan! Kami naik kapal sungguhan menyeberang ke P. Kelapa dari Tel. Kiluan. Tak ada yang berbohong, semua sungguhan! Saya bahagia sungguhan! Saya salaman lagi sama Myrna! Ini semua sungguhan! Ha!

Sesungguhnya, perjalanan ke Kiluan memang sangat panjang, 15 jam, Saudara!

Berhasil! Pulaunya sungguhan!

Pasir putih, laut toska, bukit hijau, hati yang gembira! 


Search This Blog