6.05.2013

Meleleh

Aku tahu, aku seharusnya memejamkan mata lebih cepat

Ketika cahaya itu meresap bersama titik-titik air yang jenuh 
Mereka meniupkan duri-duri yang menusuki putih dalam tubuh
Aku diserang.

Bentuk bergerak yang telah hilang dimakan bulan
Membuatku berjalan menuju sepi
Berpindah menyambut gelap 

Ketika terang berkunjung
Aku tahu, ada sungai mengalir di sana
Sungai yang membuatku meleleh
Mengalir bersama kabut asap yang menyerang

6.04.2013

Si Latin di Gang Kecil

Jadi, saya mau cerita tentang apa saja yang terjadi hari ini. Intinya hari ini adalah proposal Metode Penelitian Sosial (MPS). Tidak, saya tidak mengerjakannya seharian, saya hanya memikirkannya seharian.

Di pagi hari, niatan saya untuk datang tepat waktu di kuliah teori komunikasi yang terakhir gagal oleh mimpi aneh yang membuat saya merasa sudah bangun padahal belum. Alhasil saya datang menjelang kelas berakhir dan masih setengah mengantuk saat ada tugas menulis review tentang teori new media dan entah apa itu. Oh iya, di hari selasa, istilah selo-selone menungso (luang-luangnya manusia) tidak berlaku di semester dua ini. Ada empat mata kuliah di hari Selasa.

Setelah kuliah Sistem Sosial Politik Indonesia, saya pergi ke perpustakaan bersama Butet dan Faida. Niatnya mau melihat-lihat skripsi untuk gambaran proposal MPS. Tiba-tiba Tita datang dan bergabung. Setelah puas dan saya pusing melihat-lihat, kami kembali ke kampus lagi dengan perut lapar. Faida dan Butet memutuskan untuk segera masuk ke kelas Komunikasi Massa. Saya dan Tita langsung menuju kantin untuk makan siang, mengakhirkan masuk ke kelas. Dengan wajah ceria, kami menyanyikan lagu 'breakeven'-nya The Script. Kemudian ada yang lewat, "Wah, itu heart breaker-ku!" lalu saya melambai dan meneruskan bernyanyi. Soto kantin hari ini tidak terlalu asin, tapi kata Tita tetap saja asin.

Di kelas Komassa, saya kemudian mendapati bahwa tugas take home mulai menyerang sembarangan. Setelah dihitung-hitung ada empat tugas take home dan saya merasa pusing. Yang terakhir adalah kuliah Komunikasi Antar Manusia. Setelah beberapa minggu terakhir kuliah diisi dengan penampilan drama dari tiap kelompok, hari ini nilai individu dan kelompok diumumkan.  Kyaaaaa~ saya senang sekali karena kelompok saya ternyata memiliki nilai tertinggi dan menjadi kelompok terbaik :D Wah, nggak sia-sia saya mesra-mesraan sama Heri dan jadi istri muda teroris. Pemain terfavorit dimenangkan oleh Yesa dan Mella. Kemudian Mbak Mutia memberi kami cupcake :3

Selesai Komanus, niat saya sih mau langsung pulang dan mengerjakan MPS. Namun sayang, ajakan Butet kali ini menggoda. Ia mengajak pergi ke sebuah toko buku yang berisi buku-buku 2nd impor. Duh, saya harus apa lagi kalau nggak memilih ikut saja ke sebuah gang kecil di Sosrowijayan yang kanan dan kirinya terdapat hotel dan toko buku. Beberapa waktu lalu Butet membeli sebuah kamus italia-inggris di sana.

Saya sih hari ini tidak berniat membeli apapun. Satu dua buku yang saya taksir sudah semakin membuat saya, "yah kok.. tapi harganya..yah ini kayanya bagus tapi nggak bawa uang.." tapi hal itu sudah biasa terjadi dengan saya sampai kemudian entah apa yang membawa saya kepada sebuah rak. Di rak itu saya asal mengambil sebuah buku bersampul putih yang ternyata adalah kamus Latin-Iggris, Inggris-Latin. Kemudian saya, "Kyaaa~ butet ini kamus latin kyaaaaaa~" saya sebenarnya tidak terlalu paham juga kenapa saya harus heboh terhadap kamus Latin ini. Namun.. ini kamus bahasa Latin, Saudara. Ya tidak apa-apa, saya ingin punya saja. Mungkin akan menjadi kepuasan tersendiri ketika saya punya kamus Latin di rak buku. Sayangnya, saya tidak punya cukup uang untuk beli si Latin ini. Begitu pula Butet dan yang lainnya nampaknya tidak se-excited saya dan Butet ketika bertemu si Latin. Akhirnya, saya hanya bisa menyalahkan si Latin, kenapa saya harus menemukannya, saya kan ingin.  Setelah menyesal bertubi-tubi saya pun akhirnya pergi menuntun motor saya di gang kecil itu meninggalkan si Latin. Lain kali kalau saya sudah tidak pelit dan punya uang, saya akan kembali lagi menjemputmu ya..

6.03.2013

Sapu Ijuk

Pertama kali mendengar namanya, yang saya pikirkan adalah sapu ijuk. Saya juga tidak tahu kenapa. Namanya Ika Septia Asridiastuti. Dari sekian ratus orang bernama sama, ia kemudian dipanggil Ikas. Asalnya dari Magelang dan kalau bicara terdengar sangat Magelang. Ia cantik, pantas menjadi Putri Indonesia.

Saya ingat, kami pertama kali pergi berdua ke ayam geprek Mas Kobis. Tau kenapa? Karena kami sedang frustasi tidak berhasil mengobrol dengan mas-mas seksi yang kami incar. Dia heboh sekali mau makan ayam geprek cabe empat puluh walaupun pada kenyataanya, "Mas, cabe enam." Di lain kesempatan, kami menuliskan hal yang tidak-tidak tentang mas-mas seksi yang sama.

Ikas adalah benang penghubung yang akhirnya mendekatkan saya kepada Tita. Setidaknya begitulah kesimpulan kami tentang bagaimana ceritanya kami begitu dekat. Ikas, Tita, Sri. Sri, Tita, Ikas. Tita, Ikas, Sri. Selalu begitu. Kami hampir selalu berkaitan. Ikas adalah teman yang juga sering iri sama Tita. Jadi, kami adalah teman yang saling iri.

Tita - Ikas - Srinindita
Pada suatu hari Ikas sangat tidak menyukai sahabat saya, Ardy. Entah kenapa, saya juga nggak tau. Katanya sih karena dia bilang, "Ardy, dicariin Sri." terus Ardy-nya malah jawab, "Oh, Sri-nya mana?" kemudian dia merasa Ardy sangat 'atos' karena ternyata malah ditanggapi serius. Tapi Kas, kalo bukan begitu kenyataannya aku minta maaf karena aku juga nggak tau sebenernya kenapa dan gimana. Syukurlah, sekarang mereka sudah berdamai setelah saling memaafkan. Entahlah itu saling memaafkan atau gimana yang jelas Ikas sudah nggak marah sama Ardy. yay!


Ikas itu anak indie. Sudah tidak usah berdebat tentang definisi indie. Bagi saya Ikas indie pokoknya. Dia selalu melakukan yang menurut saya...yah gitu deh...udahlah kas mbok ya udah... atau kas kok kamu bisa mikir gitu... Yang jelas, menurut saya tindakan ikas itu selalu berasal dari dalam dirinya, memiliki sangat sedikit pengaruh dari orang lain. Pokoknya yang menurut dia membuat dia senang, ya sudah dilakukan. Ya begitu sih yang saya pikirkan tentang Ikas si artis Magelang.

Kadang-kadang dia merasa ditinggalkan. Pada kenyataannya, tidak. Yah memang begitu Ikas. Aku sayang kamu deh kas! Kyaaaaaa~ Kyaaaaaaa~ muah muah. Oh iya, saya pernah cium punggung Ikas, dan saya nggak tau bagaimana perasaannya.. Oh iya, silakan klik blognya ikas di sini.

6.02.2013

Lupa

aku lupa belajar
aku lupa main
aku lupa berdoa
aku lupa makan
aku lupa minum
aku lupa.

aku lupa mau apa
aku lupa mau begini
aku lupa harus apa?

Kapan aku lupa kamu?
aku lupa kenapa galau.

6.01.2013

Rahasia

Karena ini rahasia, maka aku tidak akan memberitahumu satu kata pun. Mereka bilang ini rahasia, jadi kau tak akan bisa mengetahuinya. Aku bilang ini rahasia dan aku akan terus diam menelan kata-kata. Kalau kau tetap bertanya aku tak akan menghiraukanmu karena ini rahasia. Memangnya kenapa kalau rahasia? Kalau ini rahasia maka aku harus diam menutup rapat apa yang kutahu karena ini rahasia.

Kau masih ingin tahu? Aku tetap tak ingin memberitahumu karena ini rahasia. Aku akan terus minum rahasia sampai semua kata tertelan dan kau tak akan menemukan apapun meskipun telah membedah perutku. Karena ini rahasia, semuanya telah tercerna dan tak akan bisa kau pilah dimanakah rahasia. Aku tahu kau ingin tahu rahasiaku, tapi ini rahasia. Sudahlah kau mau apa lagi? ini rahasia dan akan tetap menjadi rahasia.

Kau akan tahu jika aku sudah kenyang makan rahasia. Karena kenyang, aku muntah. Aku muntah kata-kata. Aku muntah rahasia. Sayangnya, aku tidak pernah kenyang makan rahasia, maka ini akan tetap menjadi rahasia. Kau tak akan tahu karena ini rahasia. Sudah menyerahlah. Ini hanya rahasia.

Search This Blog