6.10.2015

Kenapa Ya

Sejak ikut 31 Hari Menulis, aku sudah kena kapak bang Wiro dua kali. Iya dua kali! 40 ribu! Yang pertama karena ketiduran, yang kedua juga karena ketiduran. Intinya ketiduran karena nggak punya ide mau nulis apa lalu mikir lalu tidur lalu bangun sudah jam dua belas lewat beberapa menit. Ya nasib.

Baca-baca posting 31HariMenulis dua tahun lalu, rasanya aku jadi iri sendiri, sama diri sendiri. Kenapa ya bisa tiap hari nulis yang paling nggak ada idenya dikit gitu. Nah ini udah hari ke-20an eh tetep aja nggak ada ide apa gitu ya yang bikin pengen bisa nulis apa gitu. Kenapa ya? Apa karena sudah tua jadi otaknya tumpul? Atau karena otaknya udah dibagi-bagi buat mikirin yang lain, yang nggak-nggak juga? Kenapa ya?

Kayaknya aku butuh piknik gitu deh. Sering-sering aja butuh piknik. Gitu aja terus butuh piknik.

6.09.2015

Berenang di Mimpi

Beberapa waktu yang lalu saya tertawa sendiri ketika sedang melihat-lihat post instagram seorang teman. Di post itu, saya menjadi salah seorang yang di-tag. Kira-kira komentarnya begini, "ini pakai filter apa ya? kok airnya bisa biru banget gitu?" lalu komentar balasannya menyenangkan, "nggak pakai filter apa-apa kok, aslinya udah gini warnanya, coba googling teluk hijau." Saya sebenarnya nggak tau apa yang lucu, tapi saya merasa puas saja karena kadang-kadang jengah lihat orang yang fotonya kebanyakan filter sampai objek aslinya nggak kelihatan.


Ya kalau begitu pantainya, mau pake filter apa lagi coba. Hanya Tuhan yang bisa milihin filter kalau gitu sih. 

6.08.2015

Naik Gunung sambil Jogging

Saya paling lemah kalau diajak mendaki. Apapun yang menanjak. Apapun yang dilabeli bukit dan gunung. Saya paling lambat berlari, kecuali terancam. Dikejar anjing misalnya. 

Januari 2015 sudah tinggal remah-remah. Saya masih menarik nafas dalam-dalam sambil menikmati angin yang berhembus setelah naik gunung sambil jogging tahun kemarin. 

Ada jeda yang panjang setelah berlari sepanjang Januari hingga Desember tahun lalu. Saya sediakan jeda yang panjang. Jangan melipat kaki setelah berlari, nanti varises atau apa lah. Bisa jadi keluar pula urat-urat tak perlu dari kepala saya jika saya tak berhenti sejenak. 

Sebelum tahun 2014 berakhir, saya ingin sekali menulis bermacam ungkapan rasa syukur di manapun ketika Desember resmi ditutup. Bahkan saya sudah merencanakan untuk melompat, berteriak, dan mengetik semua selebrasi tersebut dengan huruf kapital. Namun ternyata, terdiam dan menyadari semuanya telah berakhir terasa lebih melegakan dibanding sorak sorai selebrasi sia-sia. Karena akhirnya, saya berhasil selamat melewati segala halangan, rintangan, duri-duri tajam, jalanan licin, dan semak belukar sepanjang tahun. Saya tak peduli bagaimana caranya semua itu terlewat, yang penting, terlalui dan saya selamat. Yang saya butuhkan hanyalah mengatur kembali nafas setelah lari terbirit-birit keliling pulau Jawa menerjang segalanya. 

Ah, tapi nampaknya saya perlu menulis sesuatu supaya tahun itu tidak hanya hilang seperti asap setelah saya membumihanguskannya. 

Tahun 2014 adalah tahun penuh kepastian. Setiap harinya terisi oleh hal-hal yang pasti harus saya lakukan. Setiap harinya terisi oleh tanggung jawab yang kadang bosan saya lakukan. Di setiap waktunya saya ketahui memiliki tantangan untuk ditaklukan. Yang akhirnya menjadikan saya bosan menghadapinya. Tahun yang penuh tantangan tapi monoton. Tahun yang mengubah saya seolah kuda. 

Ada hal-hal yang membuat saya sengaja mendaki gunung sambil jogging layaknya kuda. Ada hal-hal yang membuat saya terus melakukan itu semua. Namun, ada pula saat-saat ketika saya begitu tak memahami mengapa melakukan itu semua sambil tetap melakukannya. Ada obsesi untuk mengambil kemudi arah terhadap segalanya. Membuat saya tak mampu lagi memikirkan arah untuk diri sendiri. 

Tahun 2014 adalah saat di mana saya sama sekali tidak ingin menikmati waktu. Saya ingin semester empat berakhir. Saya ingin semester lima berakhir. Saya ingin tahun itu segera berakhir. Ada banyak momen yang tidak saya resapi kenikmatannya karena terlalu terburu-buru untuk membuatnya berakhir. 


Di tahun 2014 saya belajar untuk mempertahankan keinginan, memilah kepentingan, dan memperjuangkan kebutuhan. Saya juga belajar untuk mengubah apa yang seharusnya diubah dan juga berlatih untuk mengatakan apa yang seharusnya disuarakan meskipun kadang gagal lalu berakhir dengan gerutu tak berujung. Yang terpenting, saya belajar untuk mengukur kemampuan dan memperkirakan capaian apa lagi yang bisa diraih. 

sayangnya, saya terlalu lelah mendaki gunung sambil jogging dan membutuhkan jeda panjang untuk memulihkan nafas.

------------

Menemukan tulisan ini di draft post. Tidak terasa sudah pertengahan tahun 2015, dan ternyata kali ini saya seolah sedang glundung-glundung di pinggir pantai, menikmati sepoi angin, tak peduli pada dunia alih-alih jogging apalagi mendaki gunung.  






6.06.2015

Sedang sakit tapi tetap saja takut denda.

6.05.2015

Dari Progo

Saya tidak tahu bagaimana menyebut atau mengistilahkan Progo. Sebenarnya bisa sih, pusat alat rumah tangga? Supermarket yang menjual peralatan rumah tangga? Supermarket dengan foodcourt dan pusat peralatan rumah tangga? Bisa jadi. Terlalu panjang saja jika dijadikan judul.

Dari balik rak berisi gelas-gelas, ada kekhawatiran yang melayang-layang. Kekhawatiran yang sudah ada di luar kepala. Kekhawatiran yang sudah jadi semboyan hidup. Pecah berarti membeli. Ada suara-suara yang mendengungkan kalimat itu setiap kali rak-rak berisi benda pecah belah itu dilewati.

Ada seorang ibu yang sibuk memilih gelas mana yang akan ia beli. Selusin atau dua lusin? Yang tebal atau yang tipis? Kegamangannya diwakilkan oleh kesibukan petugas toko yang sibuk mengambil dus-dus gelas keinginan si Ibu.

Ada sepasang laki-laki dan perempuan muda yang melihat dari satu perangkat minum teh ke prangkat minum teh lainnya. Katanya, "yang ini lebih lucu," kepada perempuan. Entah siapa mereka. Mungkin saja sepasang kekasih. Mungkin saja pengantin baru. Bisa jadi kakak beradik yang disuruh ibunya. Bisa jadi hanya teman yang ingin membelikan teman lainnya.

Sendok-sendok sayur berbagai ukuran masih menggantung berjajar. Tidak terbayangkan betapa besar panci yang akan digunakan jika sendoknya sebesar itu. Ah, alat apa itu? Penjepit berbentuk aneh. Siapa kiranya yang akan menggunakannya.

Search This Blog